TANGERANG – Kali Mookervaart yang membentang sepanjang 13 kilometer dari Sungai Cisadane di Kota Tangerang hingga Pesing, Jakarta Barat, tak hanya berfungsi sebagai saluran air bersejarah pengendali banjir.
Kali Mookervaart kini menjadi simbol penting sejarah dan budaya lokal. Kanal ini bahkan menjadi inspirasi digelarnya Festival Mookervaart, yang akan kembali dihelat pada 22–24 Mei 2025 di Taman Hutan Kota, Kota Tangerang.
Sejarah pembangunan Kali Mookervaart menyimpan dua versi menarik. Versi pertama menyebutkan pembangunan kali Mookervaart digagas oleh Gubernur Jenderal VOC Joan Maetsuycker pada tahun 1678, segera setelah ditandatanganinya perjanjian damai antara VOC dan Kesultanan Banten.
Proyek ini dilanjutkan oleh dua gubernur jenderal berikutnya, Rijcklof van Goens dan Cornelis Speelman, dan akhirnya rampung pada masa Johannes Camphuys pada tahun 1689.
Versi kedua mengaitkan kanal ini dengan tokoh bernama Cornelis Vincent van Mook, yang disebut-sebut sebagai nenek moyang dari Hubertus Johannes van Mook, Gubernur Jenderal Hindia Belanda terakhir.
Disebutkan bahwa Van Mook memulai pembangunan kanal pada 1681 dengan mengerahkan 7.000 pekerja dari Indramayu serta ratusan orang Tionghoa yang membelot dari Kesultanan Banten.
Kanal itu rampung pada 6 Oktober 1687, ditandai dengan mengalirnya sepertiga volume air Sungai Cisadane ke sepanjang saluran tersebut.
Van Mook wafat setahun kemudian, pada 20 Oktober 1688, dan namanya kemudian diabadikan dalam nama kanal: Mookervaart, yang berarti “saluran air milik Mook” atau “Mook Si Cepat”.
Sejak masa kolonial, kali Mookervaart telah memainkan peran vital dalam sistem irigasi dan pengendalian banjir wilayah Batavia bagian barat. Kanal ini menghubungkan Sungai Cisadane di Tangerang dengan Kali Angke di Jakarta, dan berperan penting dalam mendistribusikan air bersih serta mendukung moda transportasi air pada zamannya.
Dua peninggalan kolonial itu berupa Pintu Air Sewan dan Pintu Air Getek masih berdiri kokoh hingga kini di Kota Tangerang. Keduanya dahulu difungsikan sebagai pintu irigasi sekaligus pelabuhan perahu tradisional yang menghubungkan Tangerang dan Batavia.
Kini, keberadaan kanal legendaris ini dirayakan melalui Festival Mookervaart, sebuah ajang tahunan yang memadukan sejarah dan seni budaya masyarakat Kota Tangerang.
Festival ini telah menjadi agenda rutin Pemerintah Kota Tangerang untuk mengangkat kembali nilai sejarah sekaligus mempromosikan potensi budaya lokal.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang, Boyke Urip Hermawan, Festival Mookervaart tahun 2025 merupakan penyelenggaraan tahun keempat.
Festival Mookervaart yang akan digelar pada 22–24 Mei 2025 di Taman Hutan Kota, Kota Tangerang akan menampilkan berbagai kegiatan. Antara lain pentas seni dari seniman dan budayawan lokal, lomba tumpeng, lomba kasidah dan ragam atraksi budaya lainnya
.
“Festival ini bertujuan untuk melestarikan cagar budaya dan sejarah Kota Tangerang. Kami ingin masyarakat lebih mengenal dan mencintai warisan sejarah di sekitarnya,” ujar Boyke.


