BerandaISLAMISetetes Air, Sejuta Makna: Jangan Pernah Meremehkan Kebaikan

Setetes Air, Sejuta Makna: Jangan Pernah Meremehkan Kebaikan

HIKMAH JUMAT

Ada kalanya kita merasa kebaikan yang kita lakukan terlalu kecil untuk berarti.

Memberi sebotol air kepada seseorang yang kehausan. Membantu orang menyeberang jalan. Memberi makan hewan yang kelaparan. Menyapa seseorang yang sedang murung. Atau sekadar menyingkirkan sesuatu yang mengganggu jalan orang lain.

Kita mungkin melakukannya begitu saja.

Tidak ada kamera.

Tidak ada tepuk tangan.

Tidak ada yang mengunggahnya ke media sosial.

Namun, jangan pernah menganggap sebuah kebaikan kecil tidak berarti di hadapan Allah.

Sebab kita tidak pernah tahu, kebaikan yang mana yang kelak menjadi alasan datangnya ampunan Allah.

Seekor Anjing dan Segelas Air

Rasulullah ﷺ pernah menceritakan tentang seseorang yang sedang melakukan perjalanan. Ia mengalami kehausan yang sangat berat.

Ia menemukan sebuah sumur, lalu turun ke dalamnya dan minum hingga rasa hausnya hilang.

Ketika keluar dari sumur, ia melihat seekor anjing yang kehausan. Anjing itu menjulurkan lidah dan menjilat tanah yang basah karena begitu dahaganya.

Orang itu kemudian berpikir bahwa anjing tersebut mengalami kehausan seperti yang baru saja ia rasakan.

Ia kembali turun ke dalam sumur, mengisi air ke dalam sepatunya, lalu membawanya naik dan memberikan air tersebut kepada anjing itu.

Allah menghargai perbuatannya dan mengampuninya.

Para sahabat kemudian bertanya kepada Rasulullah ﷺ apakah berbuat baik kepada hewan juga mendapatkan pahala.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa pada setiap makhluk hidup terdapat pahala dalam berbuat baik kepadanya. Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim No. 2244.

Riwayat lain dalam Shahih al-Bukhari No. 3321 juga menceritakan seorang perempuan yang melihat seekor anjing kehausan di dekat sumur. Ia mengambilkan air untuknya, dan disebutkan bahwa Allah mengampuninya karena perbuatan tersebut.

Allah Melihat Apa yang Sering Tidak Dilihat Manusia

Ada pelajaran yang sangat dalam dari kisah tersebut.

Nilai sebuah kebaikan tidak selalu ditentukan oleh ukurannya.

Manusia mungkin melihat seseorang hanya memberikan sedikit air.

Allah melihat hati yang tergerak untuk menolong.

Manusia mungkin melihat perbuatan itu tidak penting.

Allah mengetahui bahwa ada makhluk yang diselamatkan dari kehausan.

Manusia mungkin tidak memberikan penghargaan.

Allah memberikan balasan dengan cara yang tidak pernah kita duga.

Karena itu, jangan menunggu menjadi kaya untuk berbagi.

Jangan menunggu menjadi pejabat untuk bermanfaat.

Jangan menunggu memiliki jabatan untuk melakukan kebaikan.

Dan jangan menunggu memiliki banyak waktu untuk membantu orang lain.

Mulailah dari apa yang ada di tangan kita.

Di Zaman Ketika Kebaikan Sering Ingin Dipamerkan

Kita hidup di zaman ketika hampir semua hal bisa direkam dan dibagikan.

Kebaikan pun terkadang tidak luput dari kamera.

Tidak selalu salah ketika sebuah kegiatan sosial didokumentasikan. Publikasi juga dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan kebaikan.

Tetapi ada satu hal yang perlu kita jaga:

jangan sampai kita lebih sibuk mendapatkan pengakuan manusia daripada mencari ridha Allah.

Sebab kebaikan yang paling berharga bukan selalu kebaikan yang paling ramai diberitakan.

Ada kebaikan yang dilakukan diam-diam.

Ada orang yang setiap bulan membantu tetangganya tanpa pernah bercerita.

Ada seorang ibu yang menyisihkan makanan untuk kucing di sekitar rumahnya.

Ada seorang guru yang tetap mengajar seorang anak meski tidak mendapatkan penghargaan.

Ada seseorang yang diam-diam membayar utang temannya karena tidak ingin membuatnya malu.

Tidak ada kamera.

Tidak ada panggung.

Tetapi mungkin justru di situlah letak keikhlasan.

Jangan Meremehkan Kebaikan

Al-Qur’an mengingatkan:

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”  (QS. Az-Zalzalah: 7)

Ayat ini mengajarkan kepada kita agar tidak meremehkan amal, sekecil apa pun.

Satu senyuman mungkin membuat seseorang kembali bersemangat.

Satu kalimat yang baik mungkin membuat seseorang tidak jadi menyerah.

Satu bantuan kecil mungkin menyelamatkan seseorang dari kesulitan.

Satu sedekah mungkin menjadi sebab datangnya keberkahan.

Kita tidak pernah tahu.

Karena itu, ketika ada kesempatan berbuat baik, jangan terlalu banyak menghitung apakah kebaikan itu besar atau kecil.

Jika mampu, lakukan.

Jumat Ini, Mari Mulai dari yang Sederhana

Mungkin kita belum mampu membangun masjid.

Tidak apa-apa.

Mungkin belum mampu memberikan beasiswa.

Tidak masalah.

Mungkin belum mampu membantu banyak orang.

Jangan berkecil hati.

Hari ini kita masih bisa melakukan sesuatu.

Berikan makanan kepada orang yang membutuhkan.

Hubungi orang tua dan tanyakan kabarnya.

Maafkan seseorang yang pernah menyakiti kita.

Bantu tetangga yang sedang kesulitan.

Berikan tempat duduk kepada orang yang membutuhkan.

Jaga kebersihan lingkungan.

Berikan ilmu yang kita punya.

Atau sekadar tersenyum kepada orang yang kita jumpai.

Jangan pernah meremehkan kebaikan.

Boleh jadi, sesuatu yang menurut kita hanya setetes air, di sisi Allah justru menjadi lautan ampunan.

Renungan Jumat

Kita tidak tahu amal mana yang akan menjadi bekal terakhir.

Bisa jadi bukan amal yang besar.

Bisa jadi sebuah kebaikan kecil yang kita lakukan dengan tulus.

Maka teruslah berbuat baik.

Meski tidak dipuji.

Meski tidak dilihat.

Meski tidak dibalas.

Sebab kita tidak sedang berbuat baik untuk mendapatkan tepuk tangan manusia.

Kita sedang menanam sesuatu yang suatu hari akan kita petik di hadapan Allah.

Kebaikan mungkin kecil di mata manusia, tetapi jangan pernah menganggapnya kecil di hadapan Allah.

— wallohu’alam bishowab —

Wassalam

Haromain

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru