SERANG – Bagi pencinta durian, Desa Sasahan, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang, punya cerita tersendiri. Di kawasan perbukitan ini, pohon-pohon durian lokal menjadi sumber penghasilan warga sekaligus menyimpan beragam cita rasa yang tidak mudah ditemukan di pasaran.
Nama seperti Siabang, Siaren, Siketan, Soroti, Setrum hingga Sitembaga dikenal di kalangan pelanggan. Saat musim panen tiba, kebun warga berubah menjadi pusat aktivitas. Sebagian petani bahkan memilih bermalam di gubuk sederhana untuk menunggu buah jatuh agar kualitasnya tetap terjaga.
Salah satunya Irwanayah (29). Pemuda Sasahan itu mengaku harus bolak-balik antara rumah dan kebun untuk memenuhi pesanan. Bahkan, karena jalan usaha tani belum menjangkau seluruh lahan keluarganya, ia masih harus berjalan sekitar 10–15 menit sambil membawa durian dari kawasan perbukitan.
“Siabang ini paling banyak dicari, cuma memang buahnya enggak banyak. Rasanya paling enak dan dulu pernah ikut kontes, dapat juara dua,” ujar Irwanayah, Senin (17/08/2026) dikutip dari radarbanten.
Siabang menjadi salah satu primadona karena dagingnya tebal, berwarna oranye dan memiliki rasa manis legit. Sementara Siaren menawarkan karakter berbeda dengan rasa manis yang kuat. Menurut Irwanayah, ketika panen sedang berada di puncak, ia bisa menjual hingga sekitar 50 buah Siaren dalam sehari. Harga durian sendiri bervariasi, mulai sekitar Rp20 ribu hingga ratusan ribu rupiah, bergantung jenis dan ukurannya.
Bisnis musiman itu bahkan bisa menghasilkan omzet sekitar Rp3 juta per hari ketika permintaan sedang tinggi. Pesanan yang datang tidak hanya berasal dari sekitar Sasahan. Karena stok kebun sendiri terbatas, Irwanayah terkadang mengambil durian milik tetangga untuk memenuhi pelanggan yang sudah memesan.
“Kalau lagi musim durian jarang di rumah karena seharian nunggu durian jatuh. Seringnya nginep di hutan,” tuturnya.
Potensi tersebut sejalan dengan kondisi wilayah Waringinkurung yang memiliki bentang alam perbukitan dan basis lahan perkebunan cukup luas. Data pemerintah kecamatan mencatat wilayah Waringinkurung memiliki sekitar 2.414 hektare perkebunan dan 1.043 hektare hutan rakyat. Dalam data pertanian BPS, Waringinkurung juga pernah mencatat sekitar 10 ribu pohon durian dengan produksi 5.751 kuintal.
Pengembangan durian Sasahan pun mulai mendapat perhatian lebih serius. Pada 2024, Pemerintah Desa Sasahan menggelar pelatihan budidaya dan pemupukan durian dengan tujuan meningkatkan kemampuan warga sekaligus mendorong desa menjadi kawasan agro dan kampung durian.
Upaya menjaga identitas durian lokal juga dilakukan di tingkat Kabupaten Serang. Pemerintah daerah telah mengajukan sejumlah varietas lokal untuk perlindungan varietas tanaman, termasuk Siroti, Sitembaga dan Sinangka. Bahkan, varietas lokal Siroti tercatat dalam pendaftaran varietas lokal Kementerian Pertanian pada 2025.
Bagi Irwanayah, potensi itu bukan sekadar soal nama varietas atau besarnya omzet. Setiap musim panen adalah perjuangan menjaga pohon, menunggu buah hingga malam, melewati jalur perbukitan, kemudian memastikan durian sampai ke tangan pelanggan dalam kondisi terbaik. Jika bunga baru yang mulai muncul berkembang menjadi buah, ia berharap bisa kembali panen pada November mendatang. (red)



