BerandaISLAMIRasulullah SAW Tak Memarahinya, Tapi Menyentuh Hatinya

Rasulullah SAW Tak Memarahinya, Tapi Menyentuh Hatinya

Hikmah Jumat

Bagaimana jika seorang anak muda datang kepada kita dan mengutarakan keinginan melakukan sesuatu yang jelas-jelas dilarang agama?

Mungkin sebagian dari kita akan langsung marah. Ada yang mencela. Ada pula yang buru-buru memberi cap buruk.

Namun Rasulullah Muhammad SAW menunjukkan cara yang berbeda.

Suatu ketika, seorang pemuda datang kepada Rasulullah SAW dan meminta izin untuk melakukan zina. Permintaan itu tentu mengejutkan.

Para sahabat yang mendengarnya merasa tidak nyaman. Tetapi Rasulullah SAW tidak mempermalukan pemuda tersebut. Beliau justru memanggilnya untuk mendekat dan mengajaknya berbicara.

Rasulullah SAW kemudian mengajukan sebuah pertanyaan sederhana: apakah pemuda itu rela jika perbuatan tersebut dilakukan terhadap ibunya?

“Tidak,” jawab pemuda itu.

Rasulullah SAW lalu mengarahkannya kepada saudara perempuan, anak perempuan, dan kerabat dekatnya. Jawabannya tetap sama: ia tidak rela.

Dari percakapan itu Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sebagaimana ia tidak rela kehormatan keluarganya dirusak, orang lain pun memiliki perasaan dan kehormatan yang sama.

Setelah itu, Rasulullah SAW mendoakannya.

Kisah ini memperlihatkan sesuatu yang sangat penting dalam cara Rasulullah SAW mendidik manusia.

Beliau tegas terhadap kesalahan, tetapi lembut terhadap orang yang sedang berbuat salah.

Inilah yang sering kita lupakan.

Kita kadang begitu bersemangat menunjukkan bahwa seseorang salah, sampai lupa bahwa tujuan nasihat bukan untuk membuat orang malu, melainkan agar ia mau berubah.

Rasulullah SAW tidak membenarkan zina. Larangannya tetap tegas. Tetapi beliau memilih jalan yang membuat pemuda itu mampu memahami kesalahannya melalui kesadaran dari dalam dirinya sendiri.

Bukankah pendekatan seperti ini juga sangat kita perlukan hari ini?

Orang tua menghadapi anaknya. Guru menghadapi muridnya. Dosen menghadapi mahasiswa. Pemimpin menghadapi masyarakat. Bahkan kita ketika berhadapan dengan teman atau tetangga yang sedang melakukan kesalahan.

Tidak semua masalah selesai dengan suara keras.

Tidak setiap kesalahan harus dibalas dengan penghinaan.

Terkadang seseorang hanya membutuhkan satu orang yang mau mendekat, mendengarkan, lalu menunjukkan jalan pulang.

Kisah pemuda itu juga mengajarkan bahwa orang yang sedang salah tidak selalu membutuhkan penghakiman; ia membutuhkan bimbingan agar mampu menyadari kesalahannya.

Maka, sebelum kita menghakimi seseorang yang jatuh, mungkin ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah kehadiran kita membuatnya semakin jauh dari kebaikan, atau justru membantunya kembali?

Rasulullah SAW telah memberikan teladan.

Kebenaran tetap harus disampaikan. Kesalahan tetap harus diluruskan. Tetapi hati manusia tidak selalu bisa disentuh dengan kemarahan.

Kadang, satu nasihat yang disampaikan dengan kasih sayang jauh lebih kuat daripada seribu kata yang penuh penghakiman.

Itulah dakwah yang menyentuh hati.

Penulis: Achmad Haromian

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru