BerandaISLAMIBercanda Ala Rasulullah ﷺ: Lucu Tanpa Bohong dan Menyakiti

Bercanda Ala Rasulullah ﷺ: Lucu Tanpa Bohong dan Menyakiti

Pernahkah kita membayangkan Rasulullah ﷺ sedang bercanda?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Sebab dalam bayangan banyak orang, sosok Rasulullah ﷺ selalu tampil serius, penuh wibawa, tegas, dan khusyuk dalam ibadah.

Padahal, Rasulullah ﷺ adalah manusia yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Beliau tersenyum, bercengkerama, bercanda dengan para sahabat, menyapa anak-anak, dan memberi perhatian kepada orang-orang di sekitarnya.

Kemuliaan ternyata tidak harus selalu ditampilkan dengan wajah yang serius.

Suatu ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ, apakah beliau juga bercanda bersama mereka. Rasulullah ﷺ menjawab bahwa beliau tidak mengatakan sesuatu kecuali kebenaran. (HR. Tirmidzi, hadis hasan).

Jawaban ini menarik. Rasulullah ﷺ tidak melarang bercanda. Yang beliau ajarkan adalah batasnya: jangan berdusta.

Artinya, Islam tidak menghendaki manusia kehilangan keceriaan. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai candaan berubah menjadi kebohongan, penghinaan, membuka aib, atau melukai perasaan orang lain.

Rasulullah ﷺ bahkan pernah bercanda dengan seorang sahabat yang meminta kendaraan. Beliau mengatakan akan memberikan “anak unta”. Sahabat itu tentu berharap mendapatkan kendaraan, tetapi Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa setiap unta memang merupakan anak dari seekor unta.

Sederhana. Tidak kasar. Tidak merendahkan. Tidak berbohong.

Begitulah cara Rasulullah ﷺ menghadirkan keceriaan tanpa kehilangan akhlak.

Ada kisah lain yang lebih menyentuh. Seorang anak kecil bernama Abu Umair memiliki seekor burung kecil yang biasa menjadi teman bermainnya. Ketika burung itu mati, Rasulullah ﷺ tidak menganggap kesedihan anak kecil itu sebagai sesuatu yang remeh.

Beliau menyapanya dan menanyakan keadaan burung kecil tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim).

Bayangkan. Seorang Rasul, pemimpin umat, dan manusia pilihan Allah, masih memberikan perhatian kepada kesedihan seorang anak karena kehilangan seekor burung.

Di situlah sisi humanis Rasulullah ﷺ terasa begitu kuat.

Beliau memahami bahwa manusia bukan hanya membutuhkan nasihat. Manusia juga membutuhkan perhatian. Tidak hanya membutuhkan aturan, tetapi juga membutuhkan kasih sayang. Tidak selalu membutuhkan ceramah, terkadang cukup membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Bukankah kehidupan kita hari ini juga demikian?

Ada orang tua yang mungkin tidak membutuhkan anaknya memberi nasihat panjang. Ia hanya ingin ditanya, “Ayah sehat?”

Ada pasangan yang tidak membutuhkan teori rumah tangga. Ia hanya ingin didengar setelah seharian menghadapi pekerjaan.

Ada anak yang tidak membutuhkan ceramah tentang prestasi. Ia hanya ingin dipeluk dan diyakinkan bahwa dirinya dicintai.

Dan mungkin ada seorang teman yang sedang menyimpan masalah besar, tetapi kita tidak pernah tahu karena kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri.

Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita bahwa akhlak bukan hanya tentang bagaimana kita berbicara kepada Allah, tetapi juga bagaimana manusia merasa ketika berada di dekat kita.

Apakah mereka merasa nyaman?

Apakah mereka merasa dihargai?

Apakah kehadiran kita membuat mereka lebih kuat, atau justru semakin tertekan?

Inilah pelajaran yang terasa sangat relevan di zaman ketika manusia semakin mudah berkomunikasi, tetapi belum tentu semakin dekat secara emosional.

Kita memiliki media sosial untuk menyapa ribuan orang, tetapi terkadang lupa menyapa orang yang duduk di sebelah kita.

Kita mudah membagikan kata-kata bijak, tetapi lupa memberikan senyuman kepada keluarga sendiri.

Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa menjadi manusia yang baik tidak harus selalu tampil serius. Ada waktunya tegas, ada waktunya lembut. Ada waktunya memberi nasihat, ada waktunya bercanda. Ada waktunya berbicara, ada waktunya cukup mendengarkan.

Sebab dakwah tidak selalu hadir dalam kalimat yang panjang.

Kadang dakwah hadir dalam sebuah senyuman.

Kadang dalam candaan yang tidak menyakiti.

Kadang dalam perhatian kecil yang membuat seseorang merasa bahwa dirinya tidak sendirian.

Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita: menjadi mulia tidak harus membuat orang lain merasa kecil. Menjadi berwibawa tidak harus membuat orang takut. Dan menjadi saleh tidak berarti kehilangan sisi kemanusiaan.

Maka, mari belajar menghadirkan akhlak Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.

Tersenyumlah lebih banyak. Bercandalah dengan jujur. Dengarkan orang lain. Perhatikan mereka yang sedang sedih.

Karena bisa jadi, kebaikan terbesar yang kita berikan hari ini bukanlah sesuatu yang mahal, melainkan membuat seseorang merasa dihargai dan bahagia karena bertemu dengan kita. (jiyong)

Oleh: Achmad Haromain

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru