TANGERANG — Menulis karya ilmiah tidak lagi harus dipandang sebagai pekerjaan yang rumit dan menyita waktu. Di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dosen dituntut semakin adaptif memanfaatkan teknologi untuk memperkuat kualitas penelitian, pengabdian kepada masyarakat, sekaligus publikasi ilmiah.
Semangat tersebut mendorong Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Tangerang (FEB UMT) menggelar workshop bertajuk “Praktis Menaklukkan Sinta dan Scopus dengan AI”, Sabtu, 22 Agustus 2026, di Aula Sudirman UMT.
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 12.00 WIB tersebut secara khusus diarahkan untuk membantu para dosen memahami pemanfaatan AI dalam proses penelitian, pengabdian kepada masyarakat, penulisan karya ilmiah, hingga publikasi pada jurnal bereputasi, baik yang terindeks Sinta maupun Scopus.
Workshop menghadirkan Assoc. Prof. Hamdani, SE., MM., M.Pd., M.Ak., Dekan FEB UMT, sebagai narasumber. Sementara kegiatan dipandu oleh Assoc. Prof. Hendra Galuh Febrianto, SE.I., M.Akun., sebagai moderator.
Bukan Sekadar Menulis, tetapi Membangun Budaya Akademik
Workshop ini tidak semata-mata berbicara mengenai bagaimana menggunakan AI untuk menghasilkan tulisan. Lebih jauh, kegiatan diarahkan agar dosen mampu menjadikan teknologi sebagai alat bantu akademik untuk mempercepat proses tanpa mengabaikan integritas, orisinalitas, metodologi penelitian, serta etika ilmiah.
Pemanfaatan AI diharapkan dapat membantu dosen dalam menemukan dan memetakan ide penelitian, menyusun kerangka tulisan, mengolah serta mengeksplorasi data, memperbaiki struktur akademik, melakukan penyuntingan bahasa, hingga mempersiapkan naskah agar lebih sesuai dengan standar publikasi ilmiah.
Dengan demikian, AI bukan pengganti kemampuan akademik dosen, melainkan menjadi asisten digital yang dapat membuat proses bekerja menjadi lebih efektif dan efisien.
Bagi dosen, kemampuan tersebut memiliki manfaat yang cukup luas. Selain meningkatkan produktivitas karya ilmiah, publikasi juga dapat mendukung pemenuhan kinerja dosen, rekam jejak akademik, pengembangan karier dan jabatan fungsional, pemenuhan luaran penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta penguatan reputasi institusi.
Pada akhirnya, semakin banyak karya ilmiah berkualitas yang dihasilkan, semakin kuat pula kontribusi perguruan tinggi dalam memberikan solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat.
Dari Penelitian hingga Publikasi
Salah satu tantangan yang sering dihadapi dosen bukan hanya melakukan penelitian, tetapi juga membawa hasil penelitian tersebut menjadi karya ilmiah yang layak dipublikasikan.
Karena itu, kemampuan memahami karakteristik jurnal, menentukan target publikasi, menyusun artikel sesuai author guidelines, memperkuat substansi penelitian, serta memilih strategi publikasi menjadi bagian penting dari ekosistem akademik.
Melalui workshop ini, FEB UMT ingin membangun pola kerja yang lebih praktis: meneliti, menulis, mempublikasikan, dan mendokumentasikan hasilnya secara berkelanjutan.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan budaya akademik yang tidak berhenti pada kegiatan penelitian, tetapi menghasilkan luaran yang dapat dibaca, dikembangkan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dilanjutkan Rapat Tinjauan Manajemen
Setelah workshop, rangkaian kegiatan FEB UMT dilanjutkan dengan Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) sebagai bagian dari evaluasi dan persiapan memasuki tahun ajaran baru, khususnya semester ganjil.
RTM menjadi momentum untuk melihat kembali berbagai capaian, mengevaluasi pelaksanaan program sebelumnya, mengidentifikasi persoalan yang masih perlu diperbaiki, sekaligus menyusun langkah strategis untuk meningkatkan mutu pengelolaan fakultas.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari komitmen FEB UMT dalam menjaga dan meningkatkan mutu akademik serta mempertahankan akreditasi unggul.
Dua agenda yang dilaksanakan dalam satu rangkaian ini memiliki pesan yang sama: peningkatan kualitas harus dimulai dari manusia yang menjalankannya.
Workshop memberikan bekal kepada dosen untuk lebih produktif dan adaptif dalam menghasilkan karya ilmiah. Sementara RTM menjadi ruang evaluasi kelembagaan agar peningkatan kualitas tersebut berjalan secara terarah dan berkelanjutan.
Bagi FEB UMT, memasuki semester baru bukan sekadar pergantian kalender akademik. Ia menjadi kesempatan untuk memperbaiki apa yang masih kurang, mempertahankan apa yang sudah baik, dan melahirkan inovasi baru.
Sebab, perguruan tinggi yang kuat bukan hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilakukan, tetapi dari seberapa jauh pengetahuan yang dihasilkan mampu memberi manfaat bagi mahasiswa, masyarakat, dunia usaha, dan kemajuan bangsa. (jiyong)



