LEBAK – Gula aren bukan sekadar produk pangan tradisional bagi masyarakat Kabupaten Lebak, Banten. Komoditas yang diolah dari nira pohon aren tersebut kini berkembang menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat, membuka lapangan kerja, hingga menembus pasar ekspor ke sejumlah negara.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Imam Suangsa mengatakan, potensi tersebut terus didorong melalui pembinaan terhadap pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Penguatan kapasitas produksi, kualitas produk, hingga kemampuan bersaing di pasar menjadi bagian dari upaya pemerintah mengembangkan gula aren sebagai produk unggulan daerah.
“Kami hingga kini mengoptimalkan pembinaan terhadap pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) produk gula aren agar bisa bersaing pasar,” kata Imam dalam keterangannya, Senin (10/08/2026).
Menurut Imam, perkembangan industri gula aren tidak terlepas dari ketersediaan pohon aren yang tersebar di berbagai wilayah Lebak. Sentra UMKM gula aren antara lain berada di Kecamatan Sobang, Gunungkencana, Cijaku, Cigemblong, Cihara, Malingping, Panggarangan, Bayah, Cilograng, Cibeber, Leuwidamar, Cirinten, Muncang hingga Lebak Gedong.
Produk yang dihasilkan juga semakin beragam. Selain gula aren cetak yang selama ini dikenal masyarakat, pelaku UMKM mulai mengembangkan gula aren bubuk atau gula semut yang memiliki karakteristik lebih praktis dan menyasar kebutuhan pasar modern. Keunggulan rasa, aroma khas, daya simpan serta citra sebagai produk alami menjadi nilai tambah yang terus dikembangkan.
Potensi ekonominya pun cukup besar. Pemerintah Kabupaten Lebak mencatat terdapat sekitar 11.000 unit usaha gula aren yang mampu menyerap sekitar 22.000 tenaga kerja, dengan total omzet mencapai Rp96,65 miliar per tahun. Tidak berhenti di pasar domestik, produk gula aren Lebak juga telah dipasarkan ke Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Australia dan sejumlah negara di Eropa.
“Dari sisi ekonomi, kami meyakini pelaku UMKM produk gula aren dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus dapat mengendalikan kemiskinan,” ujar Imam.
Di tingkat pelaku usaha, geliat komoditas tersebut juga dirasakan Kube Mitra Mandala Kabupaten Lebak. Ketua Kube Mitra Mandala, Anwar Aan, mengatakan kelompoknya memanfaatkan perkebunan aren yang tersedia untuk mengembangkan produksi gula aren dan gula semut. Saat ini, pengembangan komoditas tersebut mencakup lahan sekitar 170 hektare yang dikelola bersama 148 petani. “Produksi gula aren di sini dapat menggulirkan uang dari hasil pengembangan usaha hingga ratusan juta rupiah per bulan,” kata Anwar. Produksi kelompok tersebut dipasarkan ke berbagai daerah dan sebagian telah diarahkan untuk kebutuhan pasar luar negeri. (red)



