TANGERANG – Inggris akhirnya memastikan tempat di perempat final Piala Dunia 2026, tetapi tiket itu diraih dengan cara yang membuat jutaan pendukungnya menahan napas. Bermain di hadapan lautan suporter tuan rumah di Stadion Azteca, The Three Lions harus berjuang hingga menit-menit terakhir sebelum mengalahkan Meksiko 3-2 dalam salah satu pertandingan paling dramatis di babak 16 besar.
Laga bahkan belum dimulai tepat waktu. Badai petir yang melanda Mexico City memaksa FIFA menunda kick-off selama satu jam demi keselamatan pemain dan penonton. Setelah pertandingan dimulai, atmosfer “Neraka Azteca” benar-benar terasa. Dukungan puluhan ribu suporter membuat Meksiko tampil agresif sejak menit awal, namun Inggris mampu mencuri momentum lewat penampilan luar biasa Jude Bellingham.
Bellingham menjadi aktor utama kemenangan Inggris. Gelandang Real Madrid itu mencetak dua gol hanya dalam rentang dua menit, masing-masing pada menit ke-36 dan ke-38. Harry Kane kemudian memperbesar keunggulan melalui titik penalti pada babak kedua setelah Anthony Gordon dijatuhkan di kotak terlarang. Di kubu Meksiko, Julián Quiñones dan Raúl Jiménez sempat membangkitkan harapan publik tuan rumah dengan dua gol balasan yang membuat laga kembali hidup hingga menit-menit akhir.
Drama sesungguhnya terjadi setelah bek Inggris Jarell Quansah menerima kartu merah pada menit ke-54 usai tinjauan VAR. Bermain dengan 10 orang membuat pasukan Thomas Tuchel dipaksa bertahan total menghadapi gempuran Meksiko. Jordan Pickford tampil sebagai penyelamat dengan beberapa penyelamatan penting yang menjaga keunggulan Inggris tetap bertahan hingga peluit panjang berbunyi.
Pengamat ESPN, Mark Ogden, menilai kemenangan Inggris lebih ditentukan oleh mentalitas dibanding kualitas permainan. Menurutnya, Inggris memang menunjukkan karakter kuat saat berada di bawah tekanan, namun masih menyisakan pekerjaan rumah dalam menjaga konsentrasi ketika memegang kendali pertandingan.
Pandangan serupa datang dari analis The Guardian, yang memberikan nilai tertinggi kepada Jude Bellingham berkat dua gol serta kontribusinya di berbagai fase permainan. Sementara Harry Kane dinilai kembali membuktikan kapasitasnya sebagai pemimpin tim, baik melalui satu gol maupun satu assist yang membuka jalan kemenangan Inggris.
Dari Indonesia, pengamat sepak bola Kesit Budi Handoyo menilai kemenangan ini menjadi bukti kematangan mental Inggris di bawah asuhan Thomas Tuchel. Namun ia mengingatkan bahwa performa seperti ini tidak akan cukup ketika menghadapi Norwegia yang sedang berada dalam kepercayaan diri tinggi setelah menyingkirkan Brasil.
Kini tantangan yang jauh lebih berat telah menunggu. Di perempat final, Inggris akan menghadapi Norwegia yang baru saja mengguncang dunia dengan menumbangkan Brasil 2-1. Duel tersebut dipastikan menjadi sorotan karena mempertemukan Jude Bellingham dan Harry Kane dengan mesin gol Norwegia, Erling Haaland. Jika Inggris kembali kehilangan disiplin seperti saat menghadapi Meksiko, langkah mereka menuju semifinal dipastikan tidak akan mudah. (red)



