Minggu, Juli 21, 2024
BerandaNASIONALSuhu Panas Ekstrem hingga Jemaah Ilegal Jadi Serba-Serbi Ibadah Haji 2024

Suhu Panas Ekstrem hingga Jemaah Ilegal Jadi Serba-Serbi Ibadah Haji 2024

Jakarta – Pada pelaksanaan puncak haji 1445 H, sebagian wilayah Saudi dilanda suhu panas ekstrem. Hal ini menjadi salah satu penyebab banyaknya jemaah haji yang wafat.

Ibadah haji merupakan kewajiban bagi umat Islam. Menunaikan haji di Makkah menjadi rukun Islam ke-5. Ibadah ini wajib ditunaikan oleh setiap muslim yang mampu, baik secara fisik maupun finansial.

Pada musim haji 1445 H ini, banyak cerita yang mewarnai ibadah tahunan ini. Dengan lebih dari 1,8 juta jumlah jemaah yang tumpah ruah pada satu waktu, tentu banyak hal yang menjadi sorotan.

Suhu Panas Ekstrem di Saudi

Setidaknya lebih dari 1.000 jemaah terkonfirmasi meninggal dunia selama puncak musim haji. Sebagian besar dari jemaah ini wafat akibat sengatan panas yang ekstrem. Panas terik di Arab Saudi mencapai angka 51,8 derajat celsius.

Dilaporkan Kantor Berita AFP yang mengutip seorang diplomat Arab mengatakan 658 orang Mesir telah meninggal dunia. Pemerintah Indonesia mengatakan bahwa lebih dari 200 jemaah meninggal dunia. India melaporkan 98 jemaah meninggal dunia.

Pakistan, Malaysia, Jordan, Iran, Senegal, Tunisia, Sudan dan wilayah Kurdistan otonom Irak juga telah mengkonfirmasi wafatnya warga negara mereka yang tengah menjalani ibadah haji.

Suhu panas yang belum pernah terjadi sebelumnya di Arab Saudi diyakini menjadi faktor utama di balik tingginya korban meninggal dunia.

Kementerian Kesehatan Saudi telah mengingatkan untuk menghindari paparan panas dan mengimbau agar tetap terhidrasi.

“Hanya dengan rahmat Tuhan yang saya selamat, karena itu sangat panas,” kata Aisha Idris, seorang jemaah asal Nigeria saat dijumpai Newsday BBC World Service.

“Saya harus menggunakan payung dan terus -menerus memadamkan diri dengan air zamzam (air suci),” katanya.

Fauziah, seorang jamaah dari Jakarta, juga menyampaikah hal senada, “Banyak yang pingsan karena kepadatan dan kepanasan di tenda.”

Melansir BBC, Sabtu (22/6/2024) sekitar 1,8 juta jemaah mendatangi Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji.

Jemaah Haji Ilegal

Pada musim haji tahun ini, Pemerintah Arab Saudi menerapkan aturan khusus berupa visa haji. Visa haji wajib dikantongi jamaah yang datang untuk berhaji.

Tanpa visa haji, jemaah tidak diperbolehkan mengerjakan ibadah haji. Bahkan tidak diperkenankan berada di Makkah pada tanggal tertentu mendekati puncak ibadah haji.

Meskipun demikian, masih banyak jemaah yang nekat mengerjakan haji tanpa visa resmi. Jemaah ini termasuk ilegal.

Lebih dari setengah jemaah yang meninggal adalah mereka yang tidak terdaftar. Para jemaah haji ilegal tidak memiliki akses untuk masuk ke tenda yang memiliki pendingin udara. Jemaah ilegal juga tidak mendapatkan akses transportasi berupa bus yang membawa dari satu lokasi ke lokasi ibadah lainnya.

Masalah jemaah ilegal ini diyakini berkontribusi pada banyaknya angka kematian.

“Kami menduga mereka yang menggunakan visa non-haji telah menyusup ke wilayah haji”, kata Mustolih Siradj, ketua Komisi Haji dan Umrah Nasional Indonesia.

Transportasi

Tidak sedikit jamaah yang mengalami kelelahan akibat berjalan dengan jarak yang sangat jauh di tengah suhu panas. Bus dan kendaraan tidak bisa melintas akibat banyaknya jalan yang ditutup.

Muhammad Acha, seorang petugas haji mengatakan, seorang jemaah mungkin harus berjalan setidaknya 15 kilometer per hari. Hal ini turut menjadi penyebab banyaknya jemaah kelelahan dan kehabisan stok air.

“Ini perjalanan haji ke-18 saya, dan dalam pengalaman saya, pemerintah Saudi tidak berperan sebagai fasilitator. Mereka mengendalikan, tetapi mereka tidak membantu,” katanya.

“Pada tahun-tahun sebelumnya, area putaran untuk mengakses tenda terbuka, tetapi sekarang semua rute itu telah ditutup. Akibatnya, peziarah yang lokasi tendanya di kategori A di zona I, harus berjalan 2,5 kilometer di tengah cuaca panas untuk mencapai tenda mereka, “jelasnya.

“Jika ada keadaan darurat di rute ini, tidak ada bantuan yang akan mencapai Anda selama 30 menit. Tidak ada akses untuk menyelamatkan nyawa, juga tidak ada titik air di sepanjang jalur ini,” tambah Acha.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular