KOTA TANGERANG — Perjalanan politik Mustofa Kamaludin menuju bursa calon Ketua DPRD Kota Tangerang memiliki cerita yang cukup panjang. Jauh sebelum duduk di kursi parlemen, kader Partai Golkar itu pernah menjalani pekerjaan sebagai sopir anggota DPRD Kota Tangerang 2004-2009, Oman Jumansyah.
Kini, perjalanan tersebut membawanya ke posisi berbeda. Mustofa resmi mendaftarkan diri sebagai salah satu kandidat Ketua DPRD Kota Tangerang untuk menggantikan almarhum H. Rusdi Alam. Ia mengaku maju bukan semata mengejar jabatan, melainkan ingin memanfaatkan kesempatan yang sama sebagai kader untuk memberikan kontribusi lebih besar bagi Kota Tangerang.
“Prinsip hidup saya dari dulu adalah berani memimpin dan siap untuk dipimpin. Semua kader yang ada di Fraksi Golkar saat ini adalah kader-kader terbaik yang punya motivasi sama untuk memajukan Kota Tangerang,” ujar Mustofa yang akrab disapa Ganyong di kantornya,Jumat (14/08/2026).
Perjalanan Mustofa alias Ganyong di parlemen memang relatif baru. Ia merupakan anggota DPRD Kota Tangerang periode 2024–2029 dari Dapil III dan tercatat sebagai anggota Fraksi Golkar. Pada Pemilu 2024, Mustofa meraih 4.632 suara dan menjadi salah satu dari sembilan kader Golkar yang berhasil memperoleh kursi di DPRD Kota Tangerang.
Pengalaman dari bawah, menurut Ganyong, justru menjadi modal untuk memahami bagaimana membangun komunikasi. Sebelum berada di parlemen, ia aktif dalam organisasi kepemudaan dan kemudian terlibat dalam Alat Kelengkapan Dewan (AKD), termasuk Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Tangerang. Dalam struktur Banggar DPRD, Mustofa tercatat sebagai salah satu anggota.
Bagi Ganyong, pimpinan DPRD tidak cukup hanya menguasai persoalan politik. Kemampuan membangun hubungan dengan berbagai pihak juga menjadi kunci, mulai dari sesama anggota dewan lintas fraksi, jajaran eksekutif melalui Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), media hingga masyarakat.
“Amanah yang diberikan itu harus dijalani dengan bersyukur dan dinikmati tanpa perlu bertindak aneh-aneh. Kalau hubungan emosional kita baik, dinamika internal maupun eksternal pasti bisa dihadapi dengan baik,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga garis komunikasi dengan struktur Partai Golkar apabila nantinya mendapat kepercayaan memimpin DPRD. Baginya, keputusan politik harus tetap berada dalam koridor aturan serta memperhatikan masukan berbagai lembaga dan tokoh yang menjadi mitra kelembagaan.
“Prinsipnya sami’na wa ato’na, kami mendengar dan kami taat terhadap perintah partai. Nasihat dan wejangan dari para kiai, MUI, serta arahan dari lembaga seperti KPK dan BPK saat bimbingan teknis harus kita jalankan sebagaimana mestinya, jangan sampai keluar dari rel aturan,” kata Ganyong.
Perebutan kursi Ketua DPRD ini berlangsung setelah Rusdi Alam meninggal dunia pada 19 Juli 2026. Rusdi merupakan kader Golkar yang menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Tangerang pada periode 2024–2029.
Mustofa Kamaludin sendiri menyerahkan keputusan akhir kepada mekanisme internal partai. Ia menyatakan siap mengikuti seluruh tahapan seleksi yang dilakukan Tim Seleksi DPD Partai Golkar Kota Tangerang sekaligus menerima siapa pun kader yang nantinya mendapatkan rekomendasi. Baginya, perjalanan dari seorang sopir dewan hingga masuk bursa calon pimpinan DPRD menjadi bagian dari proses panjang yang harus dijalani dengan kesiapan menerima amanah maupun konsekuensinya. (bro)



