BerandaOPINIMaulid Nabi Bukan Sekadar Mengenang, Saatnya Menghidupkan Akhlak Rasulullah

Maulid Nabi Bukan Sekadar Mengenang, Saatnya Menghidupkan Akhlak Rasulullah

Bukan Sekadar Maulid, Tetapi Menghidupkan Akhlak Nabi

Dalam Rangka Maulid Nabi Muhammad SAW

Dunia pernah berada dalam masa ketika manusia kehilangan arah. Yang kuat menindas yang lemah, kejujuran kehilangan tempat, dan manusia semakin jauh dari Tuhannya.

Lalu lahirlah seorang manusia mulia yang kelak mengubah wajah sejarah dan peradaban dunia: Muhammad bin Abdullah.

Ia datang membawa cahaya ketika kegelapan menyelimuti kehidupan. Mengajak manusia kembali mengenal Tuhannya, meninggalkan kesyirikan, menegakkan keadilan, menghormati sesama, menyayangi kaum lemah, dan membangun kehidupan dengan iman serta akhlak.

Allah SWT berfirman:

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian…”

(QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa Rasulullah SAW bukan hanya untuk dikagumi, tetapi untuk diteladani.

Sang Al-Amin yang Membuat Orang Percaya

Jauh sebelum menerima wahyu, Muhammad SAW telah dikenal masyarakat Makkah sebagai Al-Amin, orang yang dapat dipercaya.

Gelar itu tidak lahir dari sebuah pencitraan. Ia tumbuh dari perjalanan hidup yang menunjukkan kejujuran, amanah, kesantunan dan keteguhan pribadi.

Sebelum berbicara tentang dakwah, Rasulullah SAW telah terlebih dahulu menunjukkan bahwa dirinya adalah manusia yang layak dipercaya.

Hari ini kita mungkin memiliki banyak orang pintar, tetapi belum tentu semuanya dapat dipercaya.

Banyak orang pandai berbicara, tetapi belum tentu mampu menjaga amanah.

Banyak orang mengejar jabatan, tetapi belum tentu siap memikul tanggung jawab.

Di sinilah keteladanan Rasulullah SAW terasa begitu dekat.

Al-Amin bukan sekadar gelar sejarah. Ia adalah standar moral yang seharusnya hidup dalam diri setiap Muslim.

Nabi yang Mengajarkan Akhlak

Salah satu pesan penting dari kerasulan Muhammad SAW adalah akhlak.

Dalam hadis yang masyhur disebutkan:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Hadis ini diriwayatkan melalui beberapa jalur, antara lain dalam al-Muwatta’ dan Musnad Ahmad, serta melalui riwayat al-Baihaqi dengan redaksi yang terkenal.

Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.

Salat mengajarkan kedisiplinan.

Puasa mengajarkan pengendalian diri.

Zakat mengajarkan kepedulian.

Dan seluruh ajaran Islam membentuk manusia agar memiliki kehidupan yang baik dan akhlak yang mulia.

Karena itu, menjadi umat Muhammad SAW tidak cukup hanya dengan memperbanyak ucapan shalawat.

Shalawat itu mulia.

Mencintai Rasulullah adalah bagian dari iman.

Namun cinta yang sejati semestinya melahirkan keinginan untuk mengikuti akhlaknya.

Kalau Rasulullah dikenal jujur, kita belajar jujur.

Kalau Rasulullah amanah, kita belajar amanah.

Kalau Rasulullah pemaaf, kita belajar memaafkan.

Kalau Rasulullah penyayang, kita belajar menyayangi.

Satu Nabi, Banyak Keteladanan

Yang membuat sosok Rasulullah SAW begitu istimewa adalah keteladanannya hadir dalam banyak sisi kehidupan.

Sebagai suami, beliau menunjukkan kasih sayang dan penghormatan kepada keluarga.

Sebagai ayah, beliau dekat dengan anak-anak dan cucu-cucunya.

Sebagai pendidik, beliau mengajar dengan kelembutan dan kebijaksanaan.

Sebagai pedagang, beliau dikenal jujur dan amanah.

Sebagai pemimpin, beliau mengajarkan keadilan dan tanggung jawab.

Sebagai dai, beliau bersabar menghadapi penolakan dan tidak mudah menyerah.

Sebagai panglima, beliau memiliki aturan dan etika dalam peperangan.

Sebagai anggota masyarakat, beliau hadir bersama orang-orang lemah, fakir, miskin dan mereka yang membutuhkan pertolongan.

Inilah keistimewaan Rasulullah SAW.

Beliau bukan hanya teladan bagi ulama.

Bukan hanya teladan bagi pemimpin.

Bukan hanya teladan bagi pedagang.

Tetapi teladan bagi manusia dalam berbagai ruang kehidupannya.

Ketampanan yang Tidak Hanya pada Wajah

Rasulullah SAW juga dikenal memiliki rupa dan penampilan yang indah. Para sahabat menggambarkan beliau sebagai sosok yang memiliki wajah bercahaya, tampan, berwibawa dan menyenangkan ketika dipandang.

Namun ada sesuatu yang jauh lebih indah daripada sekadar ketampanan wajah.

Akhlaknya.

Sebab wajah yang tampan akan dimakan usia.

Kekayaan bisa hilang.

Jabatan bisa berakhir.

Popularitas bisa berganti.

Tetapi akhlak yang mulia akan terus dikenang.

Allah bahkan memuji Rasulullah SAW dengan firman-Nya:

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

(QS. Al-Qalam: 4)

Tidak mengherankan jika lebih dari empat belas abad setelah wafatnya Rasulullah SAW, nama beliau masih disebut dengan penuh cinta oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Maulid dan Pertanyaan untuk Kita

Karena itu, memperingati Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti pada acara seremonial.

Tidak berhenti pada menghias masjid.

Tidak berhenti pada mendengarkan ceramah.

Tidak berhenti pada membaca shalawat.

Maulid seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah kita menjadi manusia yang dapat dipercaya?

Sudahkah kita menjaga lisan?

Sudahkah kita menghormati orang tua?

Sudahkah kita menyayangi keluarga?

Sudahkah kita jujur dalam bekerja dan berdagang?

Sudahkah kita adil ketika menjadi pemimpin?

Sudahkah kita mampu memaafkan orang yang menyakiti kita?

Dan yang paling penting:

Sudah sejauh mana akhlak Rasulullah hadir dalam kehidupan kita?

Sebab bisa jadi kita sangat mencintai Nabi Muhammad SAW, tetapi tanpa sadar masih jauh dari akhlaknya.

Kita rajin bershalawat, tetapi masih mudah menyakiti orang lain.

Kita sering menyebut nama beliau, tetapi masih sulit menjaga amanah.

Kita mengaku sebagai umatnya, tetapi masih mudah mencela, memfitnah dan merendahkan sesama.

Di sinilah Maulid menemukan maknanya yang paling dalam.

Dari Mengenang Menjadi Menghidupkan

Muhammad SAW telah wafat lebih dari empat belas abad yang lalu.

Tetapi ajarannya tidak pernah mati.

Tauhidnya tetap menjadi cahaya.

Al-Qur’annya tetap menjadi petunjuk.

Sunnahnya tetap menjadi jalan.

Akhlaknya tetap menjadi teladan.

Maka tugas kita bukan sekadar mengenang kelahiran Nabi, tetapi menghidupkan warisan Nabi dalam kehidupan.

Mari kita hadirkan keteladanan Muhammad SAW di rumah melalui kasih sayang.

Hadirkan di tempat kerja melalui kejujuran.

Hadirkan dalam bisnis melalui amanah.

Hadirkan dalam pendidikan melalui keteladanan.

Hadirkan dalam kepemimpinan melalui keadilan.

Dan hadirkan dalam kehidupan bermasyarakat melalui persaudaraan serta kepedulian.

Sebab dunia hari ini mungkin tidak kekurangan orang pintar.

Dunia juga tidak kekurangan orang kaya.

Dunia tidak kekurangan orang berkuasa.

Tetapi dunia sangat membutuhkan manusia yang berakhlak.

Dan lebih dari empat belas abad yang lalu, Allah SWT telah menghadirkan sosok manusia terbaik untuk menjadi teladan itu.

Muhammad bin Abdullah.

Manusia mulia yang diutus membawa risalah tauhid, menerangi jalan kehidupan dan menjadi teladan bagi manusia.

Maka dalam momentum Maulid Nabi Muhammad SAW ini, mari kita tidak hanya bertanya:

“Kapan Nabi Muhammad lahir?”

Tetapi mari bertanya lebih dalam:

“Apa yang sudah lahir kembali dalam diri kita setelah mengenang kelahiran beliau?”

Jika setelah Maulid kita menjadi lebih jujur, lebih santun, lebih amanah, lebih penyayang dan lebih peduli kepada sesama, maka sesungguhnya kita tidak hanya memperingati Maulid.

Kita sedang menghidupkan kembali akhlak Muhammad SAW dalam kehidupan kita.

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Semoga kecintaan kita kepada Rasulullah tidak berhenti di lisan, tetapi menjelma menjadi akhlak, perilaku dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad. (Jiyong)

Penulis : Achmad Haromain, M.I.Kom

(Akademisi Tangerang)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru