BerandaTANGERANG RAYAKABUPATEN TANGERANGKemarau Panjang Bayangi Ribuan Hektare Sawah, Pemkab Tangerang Siapkan Langkah Antisipasi

Kemarau Panjang Bayangi Ribuan Hektare Sawah, Pemkab Tangerang Siapkan Langkah Antisipasi

TANGERANG – Ancaman musim kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino mulai menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Tangerang. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) memetakan sedikitnya 15 kecamatan berpotensi mengalami kekeringan yang dapat mengganggu produktivitas pertanian hingga memicu gagal panen apabila pasokan air terus berkurang dalam beberapa bulan ke depan.

Kepala DPKP Kabupaten Tangerang, Ujang Sudiartono, mengatakan pihaknya masih melakukan pendataan untuk mengetahui luas lahan pertanian yang berpotensi terdampak. Sejumlah wilayah yang telah masuk dalam pemantauan di antaranya Kecamatan Rajeg, Gunung Kaler, Mekar Baru, dan Kronjo, yang selama ini memiliki areal persawahan cukup luas dan bergantung pada ketersediaan air.

“Pendataan terhadap lokasi yang mengalami kekeringan hingga saat ini masih terus berlangsung,” ujar Ujang kepada wartawan, Selasa (21/7/2026).

Menurut Ujang, hasil koordinasi dengan BMKG Stasiun Klimatologi Banten menunjukkan puncak dampak El Nino diperkirakan terjadi pada Agustus hingga Oktober 2026. Pada periode tersebut, curah hujan diprediksi hanya berkisar 0–50 milimeter, sementara musim kemarau diperkirakan berlangsung selama 19 hingga 27 dasarian atau sekitar enam sampai sembilan bulan. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi ketersediaan air irigasi yang dibutuhkan tanaman pangan.

“Berdasarkan hasil koordinasi dengan BMKG Stasiun Klimatologi Banten menunjukkan bahwa puncak dampak El Nino diperkirakan terjadi pada Agustus sampai Oktober 2026,” jelasnya.

Kabupaten Tangerang sendiri memiliki kawasan pertanian yang cukup luas. Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2020, luas Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) mencapai 13.931 hektare. Meski demikian, DPKP belum dapat memastikan berapa luas lahan yang berpotensi mengalami puso atau gagal panen karena proses identifikasi masih berjalan dan perkembangan cuaca masih terus dipantau.

“Belum bisa dipastikan karena dampaknya diprakirakan masih berlangsung sampai Oktober 2026,” kata Ujang.

Sebagai langkah mitigasi, Pemkab Tangerang telah menyiapkan sejumlah program untuk membantu petani menghadapi ancaman kekeringan. Upaya tersebut meliputi pembangunan irigasi perpompaan dan perpipaan, optimalisasi lahan pertanian, penyaluran bantuan benih bagi petani yang mengalami gagal panen, hingga penyediaan sarana dan prasarana pendukung guna menjaga produktivitas sektor pertanian.

Sementara itu, kondisi kekeringan mulai dirasakan di Desa Pasir Ampo, Kecamatan Kresek. Kepala Dusun Pasir Ampo, Sukemi, mengungkapkan sekitar 250 hektare dari total 450 hektare lahan sawah di wilayahnya mengalami kekeringan selama musim kemarau.

Meski demikian, Sukemi memastikan hasil panen petani hingga saat ini masih relatif aman karena keberadaan jaringan irigasi mampu memenuhi kebutuhan air di sebagian besar lahan pertanian.

“Luas keseluruhan sawah di Desa Pasir Ampo sekitar 450 hektare, dan yang terdampak kekeringan sekitar 250 hektare. Untungnya hasil panen tetap bagus karena masih didukung irigasi,” ungkap Sukemi.

DPKP Kabupaten Tangerang mengimbau para petani untuk terus berkoordinasi dengan petugas penyuluh pertanian apabila mulai mengalami kesulitan memperoleh pasokan air. Pemerintah daerah berharap langkah mitigasi yang dilakukan sejak dini mampu menekan risiko gagal panen sehingga ketahanan pangan daerah tetap terjaga meski menghadapi dampak El Nino. (red)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru