TANGSEL – Musim kemarau yang semakin panjang mulai memperlihatkan dampak nyata di Kota Tangerang Selatan. Di sejumlah permukiman, sumur-sumur warga mulai mengering, debit air tanah terus menurun, sementara ratusan keluarga kini hanya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari melalui pasokan air bersih yang dikirim menggunakan truk tangki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan.
Data BPBD Tangsel mencatat, hingga Selasa (28/7/2026) sebanyak 222 kepala keluarga (KK) di 10 titik terdampak kekeringan. Untuk menjaga kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, BPBD telah mendistribusikan 125.100 liter air bersih selama periode 8 hingga 28 Juli 2026.
Komandan Pleton Satuan Tugas BPBD Kota Tangerang Selatan, Dian Wiryawan, mengatakan distribusi air bersih dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan warga di setiap lokasi terdampak.
“Total air bersih yang telah kami distribusikan selama periode 8 hingga 28 Juli 2026 mencapai 125.100 liter. Penyaluran dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah terdampak,” ujar Dian, Selasa (28/7/2026).
Berdasarkan pemetaan BPBD, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, menjadi wilayah yang paling terdampak dengan sembilan titik kekeringan, yakni di RT 02/RW 01, RT 03/RW 01, RT 04/RW 02, RT 05/RW 02, RT 06/RW 02, RT 01/RW 02, RT 13/RW 05, RT 12/RW 05, dan RT 09/RW 05. Sementara satu titik lainnya berada di RT 06/RW 04, Kelurahan Serpong, Kecamatan Serpong.
Menurut Dian, berkurangnya debit air tanah akibat minimnya curah hujan membuat sejumlah sumur warga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kondisi tersebut mendorong BPBD mengerahkan armada tangki air sebagai langkah penanganan darurat agar aktivitas masyarakat, mulai dari memasak, mandi hingga kebutuhan sanitasi, tetap dapat berjalan.
“Saat ini terdapat 10 titik terdampak dengan total 222 kepala keluarga. Distribusi air bersih menjadi langkah cepat untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses air layak selama musim kemarau berlangsung,” jelasnya.
Fenomena ini sejalan dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang sebelumnya memperkirakan sebagian besar wilayah Banten memasuki puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus 2026. Penurunan curah hujan dalam periode tersebut meningkatkan risiko kekeringan, terutama di kawasan yang masih mengandalkan sumur dangkal sebagai sumber air utama.
BPBD Tangsel memastikan pemantauan lapangan terus dilakukan setiap hari. Jika kemarau berlanjut dan jumlah wilayah terdampak bertambah, distribusi air bersih akan diperluas agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
“Kami terus memonitor perkembangan di lapangan. Apabila ada wilayah baru yang mengalami kesulitan air bersih, kami siap melakukan distribusi sesuai kebutuhan masyarakat,” tegas Dian.
BPBD juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara hemat selama musim kemarau, memperbaiki kebocoran saluran air di rumah, serta segera melaporkan kepada pemerintah setempat apabila mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Langkah tersebut dinilai penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat sebelum dampak kekeringan meluas. (red)



