JAKARTA — Bursa saham Indonesia kembali menghadapi tekanan berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa (15/9/2026) di level 6.461,15, anjlok 73,54 poin atau 1,13 persen dibanding penutupan sebelumnya di 6.534,69.
Penurunan tersebut sekaligus membuat IHSG mencatat pelemahan selama lima hari perdagangan berturut-turut. Sepanjang perdagangan hari ini, indeks bergerak di rentang 6.549 hingga menyentuh level terendah 6.461.
Tekanan semakin terasa karena mayoritas sektor saham berada di zona merah. Sektor perindustrian menjadi pemberat terbesar dengan penurunan 1,56 persen, disusul sektor keuangan 1,36 persen dan energi 1,27 persen.
Sektor properti dan real estate juga melemah 1,03 persen, transportasi turun 0,89 persen, barang baku 0,73 persen, barang konsumer primer 0,69 persen, serta teknologi 0,37 persen.
Sektor keuangan menjadi salah satu sorotan karena sejumlah saham bank besar ikut terkoreksi. Tekanan jual terlihat pada BMRI, BBRI dan BBNI. Investor asing tercatat melakukan net sell sekitar Rp349,28 miliar di seluruh pasar.
Saham yang paling banyak dilepas asing antara lain BMRI dengan net sell sekitar Rp282,9 miliar, BBRI Rp99,9 miliar dan BBNI Rp95,8 miliar. Sebaliknya, asing masih mencatat pembelian bersih pada ANTM sekitar Rp176,1 miliar dan BUMI sekitar Rp100,5 miliar.
Bagi investor ritel, level 6.500 kini menjadi perhatian penting. Sebelumnya, area 6.400–6.500 sudah dipandang sebagai salah satu support penting IHSG untuk September. Artinya, posisi penutupan 6.461 membuat pasar kembali berhadapan dengan zona krusial tersebut.
Tekanan pasar juga tidak hanya datang dari dalam negeri. Pergerakan harga minyak dunia, ekspektasi kebijakan suku bunga Amerika Serikat, pelemahan rupiah serta arus dana asing menjadi faktor yang ikut diperhatikan pelaku pasar. Mirae Asset menilai pergerakan rupiah dan keberlanjutan foreign flow menjadi faktor penting bagi arah IHSG berikutnya.
Meski demikian, tidak semua saham tumbang. Di kelompok LQ45, KLBF justru menguat 4,76 persen, MAPI naik 4,53 persen dan ANTM bertambah 2,51 persen. Ini menunjukkan bahwa di tengah pasar yang sedang merah, masih terdapat saham-saham yang mampu bertahan bahkan menarik minat beli.
Untuk investor recehan, kondisi seperti ini mungkin terasa bikin jantung ikut turun bersama IHSG. Namun, koreksi tajam tidak otomatis berarti semua saham harus dilepas. Yang lebih penting adalah melihat fundamental perusahaan, harga beli, kebutuhan dana, serta menentukan apakah penurunan tersebut masih bagian dari koreksi pasar atau sudah mengubah prospek emiten.
Pasar besok kembali akan diuji: apakah IHSG mampu merebut lagi 6.500 atau justru melanjutkan perjalanan menguji area support berikutnya. Buat investor kecil, satu prinsip sederhana tetap relevan: perusahaan bagus, harga masuk akal, dan sesuai tujuan kita. (red)



