BerandaISLAMISyahadat, Bukan Sekadar Ucapan

Syahadat, Bukan Sekadar Ucapan

Kisah Hikmah Jumat

“Menjaga Keislaman”

Syahadat bukan sekadar ucapan. Ia adalah ikrar yang membawa konsekuensi sepanjang kehidupan.

Setiap Muslim mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai pintu masuk ke dalam Islam. Dengan syahadat, seseorang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Namun, syahadat tidak berhenti pada lisan. Syahadat menuntut hati untuk percaya dan kehidupan untuk membuktikan keyakinan tersebut melalui amal.

Al-Qur’an mengingatkan manusia tentang sebuah persaksian yang sangat mendasar. Allah berfirman tentang persaksian anak cucu Adam:

 “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul, kami bersaksi.” (QS. Al-A’raf: 172)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa manusia memiliki hubungan yang sangat mendasar dengan Tuhannya. Allah adalah Tuhan kita, dan kehidupan manusia seharusnya berjalan dalam kesadaran sebagai hamba-Nya.

Karena itu, menjaga keislaman bukan sekadar mempertahankan identitas sebagai Muslim. Kita juga harus menjaga iman melalui perilaku dan amal kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya istiqamah. Ketika seorang sahabat meminta nasihat yang ringkas, beliau bersabda:

“Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)

Istiqamah berarti tetap berada di jalan iman. Seseorang tetap menjaga hubungan dengan Allah, meskipun kehidupan menghadirkan kesibukan, godaan, masalah, dan berbagai ujian.

Syahadat yang Melahirkan Ihsan

Iman yang terjaga seharusnya melahirkan ihsan.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya. Jika kita tidak mampu melihat-Nya, kita menyadari bahwa Allah selalu melihat kita. (HR. Muslim)

Kesadaran itulah yang membuat seorang Muslim berhati-hati dalam menjalani kehidupan.

Ia tidak hanya bertanya, “Apakah orang lain melihat perbuatan saya?”

Ia juga bertanya, “Apakah Allah ridha dengan perbuatan saya?”

Di sinilah syahadat menemukan maknanya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika seseorang bekerja, ia tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Ia menyelesaikan pekerjaan dengan amanah meskipun atasannya tidak berada di tempat.

Ketika berdagang, ia tidak menyembunyikan cacat barang. Ia tidak mengurangi timbangan dan tidak memainkan harga dengan cara yang merugikan orang lain.

Ketika berbicara, ia menjaga lisannya. Ia tidak mudah menyebarkan fitnah, mencela, atau menyampaikan berita yang belum jelas kebenarannya.

Bahkan di dunia digital, ihsan tetap berlaku. Kita menahan jari untuk tidak menyebarkan kabar bohong, menghina orang lain, atau membuat komentar yang melukai hati.

Kita juga dapat menunjukkan ihsan kepada orang tua. Kita membantu mereka ketika membutuhkan, berbicara dengan lembut, dan mendoakan mereka.

Kepada pasangan dan keluarga, ihsan dapat diwujudkan melalui kesetiaan, kesabaran, perhatian, dan kesediaan untuk saling memaafkan.

Kepada tetangga, ihsan dapat hadir dalam bentuk sederhana. Kita tidak mengganggu ketenangan mereka, membantu ketika mereka kesulitan, dan menjaga hubungan baik.

Bahkan memberikan senyum, menyingkirkan sesuatu yang mengganggu jalan, membantu orang yang kesulitan, atau memberikan makanan kepada mereka yang membutuhkan dapat menjadi bagian dari kebaikan.

Amal-amal itu mungkin terlihat kecil di mata manusia. Namun, Allah tidak menyia-nyiakan kebaikan sekecil apa pun.

Allah berfirman:

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7)

Ayat ini memberikan pelajaran penting. Tidak ada kebaikan yang benar-benar sia-sia di hadapan Allah.

Karena itu, jangan menunggu menjadi orang kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu menjadi tokoh untuk berbuat baik. Jangan menunggu memiliki banyak waktu untuk membantu sesama.

Kita bisa berbuat ihsan mulai dari rumah, tempat kerja, lingkungan masyarakat, bahkan melalui layar telepon yang berada di tangan kita.

Satu kejujuran mungkin menyelamatkan orang lain dari kerugian.

Satu bantuan mungkin meringankan beban seseorang.

Satu kata yang lembut mungkin menguatkan hati yang sedang rapuh.

Dan satu kebaikan yang kita anggap sederhana bisa menjadi amal yang kita temukan kembali pada hari ketika kita sangat membutuhkan pertolongan Allah.

Menjaga Syahadat Sampai Akhir Hayat.

Pada akhirnya, menjaga keislaman bukan hanya tentang bagaimana kita mengucapkan syahadat ketika memulai perjalanan sebagai seorang Muslim.

Yang lebih penting adalah bagaimana kita menjaga makna syahadat sepanjang kehidupan.

Kita menjaga salat ketika sibuk.

Kita menjaga kejujuran ketika memiliki kesempatan untuk berbuat curang.

Kita menjaga amanah ketika tidak ada orang yang mengawasi.

Kita memilih yang halal ketika yang haram terlihat lebih mudah.

Kita tetap berbuat baik meskipun kebaikan itu tidak selalu mendapatkan penghargaan manusia.

Semua itu merupakan bagian dari istiqamah.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kehidupan seorang Muslim adalah perjalanan menuju Allah.

Kita tidak pernah tahu amal mana yang akan menjadi sebab datangnya rahmat Allah. Bisa jadi sedekah yang kecil. Bisa jadi doa untuk orang tua. Bisa jadi pertolongan kepada tetangga. Bisa jadi kejujuran yang kita pertahankan ketika tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.

Maka, mari kita menjaga syahadat dengan iman yang istiqamah dan amal yang ihsan.

Sebab syahadat bukan hanya kalimat yang kita ucapkan dengan lisan. Syahadat harus hadir dalam cara kita bekerja, berbicara, memperlakukan keluarga, menghormati sesama, menggunakan media sosial, dan menjalani seluruh kehidupan.

Itulah bekal yang kita bawa menuju akhirat: iman yang dijaga, amal yang ikhlas, dan kebaikan yang terus mengalir dalam kehidupan.

Semoga Allah menjaga hati kita dalam keislaman, memberikan kekuatan untuk istiqamah dalam kebaikan, dan mengakhiri kehidupan kita dengan husnul khatimah.

Aamiin.

Oleh: Achmad Haromain

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru