*KISAH HIKMAH JUMAT*
*Parenting Islami: Belajar Mendidik Anak dari Luqman*
Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berakhlak mulia, dan berhasil dalam kehidupan. Namun, mendidik anak bukan sekadar memenuhi kebutuhan hidup, menyekolahkan, atau mengajarkan ilmu pengetahuan. Orang tua juga perlu menanamkan akidah sebagai fondasi utama kehidupan anak.
Al-Qur’an memberikan teladan pendidikan keluarga melalui nasihat Luqman kepada anaknya. Nasihat tersebut diabadikan dalam Surah Luqman ayat 13–19. Menariknya, Luqman tidak memulai pendidikan dengan urusan dunia, tetapi dengan mengenalkan Allah SWT dan menanamkan tauhid.
Allah SWT berfirman dalam QS. Luqman ayat 13, yang artinya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
Pesan ini menunjukkan bahwa akidah menjadi fondasi pendidikan anak. Sebelum mengejar kecerdasan, kekayaan, dan keberhasilan, orang tua perlu membimbing anak agar mengenal Allah SWT, memahami kewajibannya sebagai hamba, serta membedakan yang benar dan yang salah.
Pendidikan bukan hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya.
Luqman memberikan contoh komunikasi yang patut diteladani. Ia memanggil anaknya dengan ungkapan “Yā bunayya”, yang berarti “Wahai anakku tersayang” atau “Wahai anakku tercinta”. Panggilan ini mencerminkan kelembutan dan kasih sayang dalam nasihatnya.
Luqman tidak hanya memberikan perintah, tetapi juga menjelaskan nilai di balik nasihat tersebut. Ia mengajarkan bahwa Allah SWT mengetahui setiap perbuatan manusia, sekecil apa pun perbuatan itu dan di mana pun seseorang menyembunyikannya. Pesan ini mendidik anak agar memiliki kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui apa yang dikerjakannya (QS. Luqman: 16).
Selanjutnya, Luqman mengajarkan anaknya untuk mendirikan salat, mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan bersabar menghadapi ujian (QS. Luqman: 17). Ia juga mengingatkan anaknya agar tidak sombong, menghormati orang lain, bersikap sederhana, dan menjaga tutur kata (QS. Luqman: 18–19).
Rangkaian nasihat ini memperlihatkan bahwa pendidikan Islam mencakup banyak aspek. Anak tidak cukup hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga perlu membangun kebiasaan beribadah, kepedulian sosial, kesabaran, kerendahan hati, dan kesantunan dalam berbicara.
Lantas, apa relevansinya dengan parenting pada masa sekarang?
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan zaman, orang tua menghadapi tantangan yang semakin beragam. Anak dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber, termasuk media sosial. Karena itu, orang tua tidak cukup hanya melarang atau memerintah. Mereka perlu membangun komunikasi yang baik, memberikan teladan, dan mendampingi anak agar mampu memilih perilaku yang benar.
Nasihat Luqman mengajarkan bahwa pendidikan keluarga harus berjalan melalui tiga hal: menanamkan akidah, membangun kedekatan emosional, dan membiasakan akhlak mulia. Orang tua perlu menjadi teladan dalam ibadah, kejujuran, kesabaran, dan cara memperlakukan sesama.
Pada akhirnya, mendidik anak bukan hanya tentang menjadikan mereka pintar dan sukses, melainkan juga membimbing mereka agar mengenal Tuhannya, memiliki akhlak yang baik, dan mampu menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab.
Hikmahnya, orang tua perlu mendidik hati sebelum menuntut prestasi, menanamkan iman sebelum mengejar keberhasilan, serta menyampaikan nasihat dengan kasih sayang agar pesan kebaikan lebih mudah diterima.
Teladan Luqman mengingatkan kita bahwa pendidikan anak bukan pekerjaan sesaat. Pendidikan adalah ikhtiar panjang yang membutuhkan keteladanan, kesabaran, doa, dan kasih sayang. Nilai-nilai inilah yang membuat nasihat Luqman tetap relevan sebagai pedoman parenting Islami sepanjang zaman.
Oleh : Achmad Haromain



