Berangkat pagi, bertemu kemacetan, lalu pulang sore dengan kondisi jalan yang tak jauh berbeda. Bagi sebagian pekerja di kota besar, situasi ini sudah menjadi rutinitas yang sulit dihindari.
Namun, ada persoalan lain di balik panjangnya antrean kendaraan. Ketika sepeda motor dan mobil berhimpitan di jalan, asap knalpot bercampur dengan debu serta berbagai zat pencemar yang ikut terhirup sepanjang perjalanan.
Sering kali perhatian hanya tertuju pada waktu yang terbuang dan rasa lelah akibat kemacetan. Padahal, udara yang dihirup selama perjalanan juga bisa memberikan dampak bagi tubuh, terutama ketika paparan terjadi hampir setiap hari.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, penyakit jantung, stroke, hingga kanker paru. Dampaknya berkaitan dengan jenis polutan, tingkat konsentrasi, serta lamanya seseorang terpapar.
Di Tengah Kemacetan, Apa Sebenarnya yang Kita Hirup?
Asap kendaraan bukan sekadar kepulan berwarna gelap atau bau menyengat yang muncul dari knalpot.
Emisi kendaraan dapat mengandung partikel halus PM2.5, nitrogen dioksida, karbon monoksida, dan sejumlah senyawa pencemar lainnya.
Partikel PM2.5 menjadi salah satu yang perlu diwaspadai karena ukurannya sangat kecil, bahkan dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.
Sementara itu, karbon monoksida dalam konsentrasi tinggi dapat mengganggu kemampuan darah membawa oksigen ke jaringan tubuh.
Pencemaran di jalan juga berasal dari debu yang beterbangan, gesekan ban dengan permukaan jalan, serta keausan rem kendaraan.
Artinya, meskipun tidak terlihat ada asap pekat, udara di sekitar lalu lintas padat belum tentu bebas dari polutan.
Lima Gangguan Kesehatan yang Perlu Diwaspadai
Berikut sejumlah risiko kesehatan yang berkaitan dengan paparan polusi kendaraan, khususnya apabila berlangsung berulang dalam jangka panjang.
1. Pernapasan Lebih Mudah Terganggu
Pernah merasa tenggorokan gatal atau tiba-tiba batuk setelah melewati jalan yang padat kendaraan?
Keluhan tersebut bisa berkaitan dengan iritasi akibat zat pencemar yang masuk ke saluran pernapasan.
Pada orang dengan asma atau gangguan paru, kualitas udara yang buruk juga dapat memperparah gejala hingga memicu sesak napas.
Jika keluhan terus berulang setelah perjalanan, pemeriksaan kesehatan diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
2. Kesehatan Jantung Ikut Terancam
Dampak polusi ternyata tidak berhenti pada saluran pernapasan.
Partikel halus yang terhirup dapat memicu respons peradangan dan memengaruhi fungsi pembuluh darah.
Dalam jangka panjang, paparan polusi udara berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke. Risiko tersebut dapat semakin besar pada seseorang yang sebelumnya memiliki masalah kardiovaskular.
3. Mata Perih dan Hidung Teriritasi
Keluhan mata terasa panas, hidung berair, atau tenggorokan kering kerap muncul ketika seseorang berada di lingkungan dengan banyak kendaraan.
Polutan di udara dapat menjadi salah satu pemicu iritasi tersebut, terutama saat konsentrasinya meningkat.
Walaupun kelihatan ringan, kondisi ini tidak sebaiknya terus diabaikan jika sering terjadi atau mengganggu aktivitas.
4. Anak-Anak dan Lansia Lebih Rentan
Tidak semua orang memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap pencemaran udara.
Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan paru memerlukan perhatian khusus.
WHO menyebutkan bahwa polusi udara dapat memberikan dampak lebih berat pada kelompok yang rentan dan orang yang sebelumnya sudah memiliki gangguan kesehatan.
Karena itu, mempertimbangkan kondisi kualitas udara menjadi penting, terutama ketika membawa anggota keluarga yang rentan bepergian.
5. Risiko Penyakit Serius dalam Jangka Panjang
Satu perjalanan melewati kemacetan tidak berarti seseorang akan langsung mengalami penyakit berat.
Persoalannya muncul ketika paparan terhadap udara tercemar berlangsung terus-menerus dalam waktu lama.
Kondisi tersebut berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit paru obstruktif kronis, gangguan jantung dan pembuluh darah, serta kanker paru.
Besarnya risiko dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada durasi perjalanan, kadar polutan, kondisi tubuh, dan kebiasaan hidup lainnya.
Pengendara Motor atau Mobil, Siapa Lebih Terpapar?
Pengendara sepeda motor berada langsung di lingkungan jalan raya tanpa perlindungan kabin tertutup. Kondisi ini membuat mereka berpotensi menghirup polutan dari kendaraan di sekitarnya.
Ketika berhenti di lampu merah atau terjebak antrean panjang, jarak dengan sumber emisi juga sering kali menjadi sangat dekat.
Meski demikian, pengguna mobil tidak otomatis lebih aman dari seluruh polutan.
Udara tercemar tetap dapat masuk melalui ventilasi, celah kendaraan, atau jendela yang terbuka.
Tingkat paparan kedua kelompok tersebut dipengaruhi oleh berbagai hal, termasuk kondisi lalu lintas, jenis kendaraan, pengaturan ventilasi, rute, dan lama perjalanan.
Kemenkes Ingatkan Pentingnya Perlindungan dari Polusi
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin sebelumnya mengingatkan bahwa penggunaan masker yang sesuai menjadi salah satu langkah pencegahan saat polusi udara meningkat.
Dalam penjelasan resmi Kementerian Kesehatan, Budi menyarankan masker dengan kemampuan menyaring partikel halus, seperti KF94 atau KN95, yang memiliki tingkat kerapatan baik pada wajah.
Kementerian Kesehatan juga memperkenalkan langkah pencegahan 6M dan 1S, mulai dari memeriksa kualitas udara, mengurangi aktivitas luar ruangan ketika polusi tinggi, hingga berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan.
Perlu dipahami bahwa respirator partikulat yang terpasang dengan baik membantu mengurangi paparan partikel, tetapi tidak mampu menyaring seluruh gas berbahaya seperti karbon monoksida.
Biar Tetap Aman, Apa yang Bisa Dilakukan Saat Berangkat Kerja?
Menghindari jalan raya sepenuhnya tentu tidak realistis bagi sebagian pekerja. Meski begitu, ada beberapa langkah untuk menekan paparan polusi selama perjalanan.
1. Cek Kondisi Udara Sebelum Keluar Rumah
Biasakan memeriksa indeks kualitas udara melalui layanan resmi seperti BMKG atau platform pemantauan yang tepercaya.
Jika kualitas udara sedang buruk, pertimbangkan rute atau waktu perjalanan lain apabila memungkinkan.
2. Pilih Masker yang Tepat
Bagi pengguna sepeda motor, respirator N95, KN95, atau masker partikulat setara yang terpasang rapat dapat membantu mengurangi jumlah partikel halus yang terhirup.
Pastikan tidak ada celah besar di bagian hidung maupun sisi wajah agar perlindungannya lebih optimal.
3. Jangan Terlalu Dekat dengan Knalpot
Saat berhenti di persimpangan atau lampu merah, usahakan tidak berada tepat di belakang knalpot kendaraan yang mengeluarkan asap pekat.
Tetap utamakan jarak aman dan keselamatan berkendara. Menghindari polusi tidak boleh dilakukan dengan manuver berbahaya di jalan.
4. Atur Sirkulasi Udara Mobil
Pengguna mobil dapat menutup jendela ketika melewati kawasan berpolusi tinggi dan menggunakan mode sirkulasi ulang udara kabin untuk sementara.
Pengaturan tersebut dapat membantu mengurangi masuknya polutan dari luar. Namun, mode sirkulasi ulang tidak sebaiknya digunakan terus-menerus tanpa mempertimbangkan kebutuhan ventilasi karena karbon dioksida dapat menumpuk di dalam kabin.
Filter udara kabin juga perlu diperiksa dan dirawat sesuai petunjuk kendaraan.
5. Cari Jalur dengan Paparan Lebih Rendah
Apabila tersedia pilihan, pertimbangkan rute yang tidak terlalu dekat dengan arus kendaraan padat atau lokasi dengan banyak kendaraan bermesin menyala.
Namun, jalan yang lebih lengang belum tentu selalu memiliki udara lebih bersih. Kondisi cuaca dan sumber pencemaran di sekitarnya tetap perlu diperhatikan.
6. Kenali Tanda Gangguan Kesehatan
Batuk berkepanjangan, napas berbunyi, atau sesak setelah terpapar polusi sebaiknya tidak dianggap sebagai keluhan biasa.
Jika gejala muncul berulang, konsultasikan dengan tenaga medis. Sementara itu, sesak napas berat, nyeri dada, atau penurunan kesadaran memerlukan pertolongan darurat.
Macet Memang Sulit Dihindari, tetapi Risiko Bisa Dikurangi
Kemacetan mungkin sudah menjadi bagian dari perjalanan menuju tempat kerja. Namun, terbiasa berada di jalan yang penuh kendaraan bukan berarti tubuh menjadi kebal terhadap polusi.
Perhatian terhadap kualitas udara perlu menjadi bagian dari kebiasaan menjaga kesehatan, sama pentingnya dengan olahraga, istirahat cukup, dan pola makan seimbang.
Menggunakan perlindungan yang tepat, merawat kendaraan, serta mengurangi paparan langsung dapat menjadi langkah sederhana yang bermanfaat.
Pada akhirnya, perjalanan ke kantor bukan hanya soal seberapa cepat sampai tujuan, tetapi juga bagaimana menjaga kesehatan selama berada di jalan.
Jangan sampai setiap hari berangkat mencari nafkah, tetapi tanpa disadari terus mengabaikan udara yang masuk ke dalam tubuh. (red)



