BANTEN — Tahapan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026/2027 di Provinsi Banten resmi bergulir. Namun di balik dimulainya proses Pra SPMB, keresahan mulai terasa di kalangan orang tua dan calon siswa. Bukan soal nilai semata, tetapi kekhawatiran klasik: salah data, jarak zonasi, hingga peluang yang makin sempit.
Melalui sistem daring, seluruh calon peserta didik wajib mengikuti tahap Pra SPMB sejak April hingga akhir Mei 2026. Di fase ini, data seperti alamat pada Kartu Keluarga, nilai rapor, hingga identitas pribadi diverifikasi. Kesalahan sekecil apa pun berpotensi menggugurkan peluang sebelum seleksi utama dimulai.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Jamaludin, menegaskan bahwa tahap ini bukan formalitas.
“Pra SPMB adalah fondasi. Kalau datanya tidak valid, sistem tidak akan memproses ke tahap berikutnya,” ujarnya.
Meski sistem diklaim lebih transparan, kekhawatiran tetap muncul, terutama pada jalur domisili yang selama ini menjadi jalur paling kompetitif. Di wilayah padat seperti Tangerang Raya, jarak rumah ke sekolah kerap menjadi penentu utama—bukan lagi semata prestasi akademik.
Sejumlah orang tua mengaku cemas menghadapi sistem ini. Mereka khawatir anaknya tersingkir bukan karena kemampuan, melainkan faktor administratif yang sulit dikendalikan.
“Nilai anak saya bagus, tapi rumah kami agak jauh dari sekolah negeri. Takutnya kalah di zonasi,” ujar salah satu wali murid di Tangerang Selatan.
SPMB tahun ini tetap membuka empat jalur utama, yakni domisili, afirmasi, prestasi, dan mutasi. Namun persaingan di setiap jalur dipastikan semakin ketat seiring tingginya minat masuk sekolah negeri.
Menanggapi hal tersebut, Jamaludin memastikan pemerintah terus melakukan perbaikan sistem agar lebih adil dan akuntabel.
“Kami ingin semua berjalan objektif. Tidak ada ruang manipulasi. Semua berbasis data dan sistem,” tegasnya.
Namun di lapangan, realitas sering kali lebih kompleks. Keterbatasan daya tampung sekolah negeri masih menjadi persoalan utama yang belum sepenuhnya terjawab setiap tahun.
Kini, Pra SPMB bukan lagi sekadar tahapan awal. Ia telah menjadi titik penentu—di mana ketelitian, strategi memilih jalur, dan faktor lokasi bisa menentukan masa depan pendidikan seorang anak.
Di tengah sistem yang semakin digital, satu hal tetap sama: harapan orang tua agar anaknya mendapatkan akses pendidikan terbaik. (red)

