SERANG – Di balik keberhasilan anggota Paskibraka Provinsi Banten mengibarkan bendara Merah Putih pada perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia, terdapat cerita pilu yang tak enak didengar.
Orangtua anggota Paskibraka Banten menilai, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten sangat kurang mengapresiasi jerih payah anaknya yang berjuang dan berlatih setiap hari untuk suksesnya pemgibaran Merah Putih.
Salah satu orangtua anggota Paskibraka Banten yang enggan disebutkan namanya mengatakan, uang penghargaan yang diterima terlalu kecil. Bahkan, jumlahnya kalah jauh dengan daerah lain.
“Uang reward-nya terlalu kecil, provinsi lain ada yang ngasih laptop, KDM (Kang Dedi Mulyadi-red) ngasih uang Rp 150 juta,” katanya seperti dikutip radarbanten pada Sabtu, (23/8/2025).
Ia menganggap, fasilitas yang diberikan Pemprov Banten sangat tak memadai. Bahkan, anaknya mendapat baju bekas ulang tahun yang disablon lagi dan sepatunya gampang jebol.
“Pakai baju bekas dan sepatunya gampang jembol,” tegasnya.
Urusan tempat tinggal anggota Paskibraka Banten, menurutnya, anaknya tidak ditempatkan di hotel, melainkan di Badan Diklat. Tempat tersebut juga cukup memprihatinkan karena dinilai tak layak.
“Daerah lain (menyebut kabupaten/kota di Banten-red) nginapnya di hotel, ini anak saya di Badan Diklat, di tempat tidur itu spreinya bolong,” ungkapnya.
Ia mempertanyakan anggaran untuk Paskibraka Provinsi Banten. Menurutnya, kalau anggarannya minim, seharusnya Pemprov Banten dapat mengalokasikan yang cukup agar pengorbanan anggota Paskibraka dihargai dengan layak.
“Banten ini, setahu saya, APBD-nya termasuk terbesar di Indonesia, kalau memang minim (anggaran yang dialokasikan-red) seharusnya dapat ditambah agar anak kami dapat fasilitas yang layak,” katanya.
Orangtua lainnya mengatakan, Pemprov Banten sangat kurang menghargai anggota Paskibraka Banten.
Ia merasa, pengorbanan anaknya untuk latihan demi suksesnya acaranya seakan tak mendapat perhatian yang cukup.
“Masalah makan juga kami anggap tak memadai. Kami sebagai orang tua sampai saat ini merasa tidak dihargai meskipun kami bangga anak kami terpilih dan menjadi anggota Paskibraka,” tuturnya.

