JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya berhasil menutup perdagangan di zona hijau pada Rabu (28/10/2026), setelah sempat mengalami tekanan dan bergerak naik turun sepanjang sesi perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
IHSG menguat 16,18 poin atau 0,31 persen ke level 5.282,31, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 5.266,13.
Perjalanan indeks menuju zona positif tidak berlangsung mulus. IHSG sempat merosot hingga menyentuh level terendah 5.167 sebelum berangsur pulih dan mencapai posisi tertinggi 5.282 menjelang penutupan.
Meski indeks utama berhasil menguat, kondisi pasar saham domestik belum sepenuhnya menunjukkan pemulihan merata. Berdasarkan data RTI Business, sebanyak 406 saham mengalami penurunan, sementara 272 saham menguat dan 112 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Aktivitas perdagangan tercatat cukup ramai dengan volume mencapai 32,18 miliar saham melalui sekitar 1,55 juta transaksi. Total nilai perdagangan di BEI mencapai Rp15,88 triliun.
Dari sisi sektoral, penguatan IHSG mendapat dukungan terutama dari sektor kesehatan yang naik 1,71 persen. Sektor keuangan turut mencatatkan kenaikan 0,80 persen, disusul sektor transportasi sebesar 0,31 persen.
Sebaliknya, sejumlah sektor masih berada dalam tekanan. Infrastruktur menjadi sektor dengan penurunan terdalam sebesar 2,13 persen, diikuti energi yang melemah 1,33 persen. Sektor bahan baku, industri, properti, hingga teknologi juga belum berhasil keluar dari zona merah.
Pergerakan positif IHSG berlangsung sejalan dengan penguatan sejumlah bursa saham Asia. Indeks Nikkei Jepang naik 1,08 persen, Shanghai Composite menguat 0,91 persen, sedangkan Hang Seng Hong Kong bertambah 0,23 persen.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah indeks saham unggulan Indonesia turut mencatatkan hasil positif. LQ45 menguat 1,21 persen ke posisi 539,47, sementara IDX30 naik 1,12 persen menjadi 302,96.
Penutupan positif ini menjadi angin segar bagi pasar saham domestik setelah IHSG mengalami pelemahan pada perdagangan sebelumnya. Namun, banyaknya saham yang masih terkoreksi menunjukkan bahwa tekanan jual belum sepenuhnya mereda.
Kondisi tersebut sekaligus menggambarkan pergerakan pasar yang masih berfluktuasi, sehingga penguatan indeks belum dapat diartikan sebagai pemulihan menyeluruh di Bursa Efek Indonesia. (red)



