BerandaTANGERANG RAYAKOTA TANGERANG SELATANKemarau Meluas, Tangsel Salurkan 281 Ribu Liter Air

Kemarau Meluas, Tangsel Salurkan 281 Ribu Liter Air

TANGSEL – Krisis air bersih akibat kemarau di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus meluas. Hingga 10 Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangsel mencatat 13 titik permukiman mengajukan bantuan air bersih, dengan total distribusi mencapai 281.150 liter.

Sekretaris BPBD Kota Tangsel Essa Nugraha mengatakan, kebutuhan warga di sejumlah lokasi cukup tinggi sehingga distribusi dilakukan setiap hari. Rata-rata air yang disalurkan pemerintah berkisar 20 ribu hingga 30 ribu liter per hari, menyesuaikan permintaan dan kondisi lapangan.

“Rata-rata per harinya kita distribusi ke masyarakat 20 ribu sampai 30 ribu liter per harinya,” kata Essa saat dikonfirmasi, Senin (10/8/2026). Berdasarkan permintaan yang diterima BPBD sejak 8 Juli hingga 10 Agustus, jumlah warga terdampak tercatat 317 kepala keluarga atau 1.674 jiwa.

Titik terdampak juga masih bertambah. Salah satunya berada di SDN Kademangan 02, yang kini membutuhkan dukungan air untuk aktivitas sekolah. Sebanyak 478 guru dan murid tercatat terdampak kondisi kemarau di lokasi tersebut.

Untuk memperkuat distribusi, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Tangsel telah menyiapkan 135 toren berkapasitas masing-masing sekitar 2.000 liter. Penampungan tersebut ditempatkan di sejumlah lokasi berdasarkan kajian risiko bencana agar air bantuan dapat digunakan warga secara lebih mudah.

Kondisi serupa dirasakan warga Kampung Koceak, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu. Ketua RW 02 Nasrullah mengatakan kekeringan telah berlangsung sekitar sebulan dan melanda tiga RT, yakni RT 04, RT 05 dan RT 06. “Wilayah saya semuanya terdampak kekeringan. Karena setiap RT ada memang warga per-KK itu ada yang kekeringan,” ujarnya.

Menurut Nasrullah, bantuan pemerintah membuat kebutuhan dasar warga lebih terbantu. Setelah berkoordinasi dengan kelurahan, kecamatan dan BPBD, pengiriman air yang sebelumnya dilakukan dua hari sekali kini menjadi setiap hari. Air kemudian ditampung di sejumlah toren yang ditempatkan di lingkungan warga.

Namun, distribusi tangki dinilai belum cukup sebagai solusi jangka panjang. Warga mengusulkan pembangunan sumur bor dan jaringan pipanisasi agar kebutuhan air dapat dipenuhi secara mandiri. Bahkan, sejumlah warga disebut bersedia menyediakan lahan sekitar empat meter persegi untuk lokasi sumur dan toren. “Kami RT/RW ingin berkolaborasi dengan pemerintah. Mudah-mudahan pemerintah bisa mengakomodir kebutuhan ini,” kata Nasrullah. (red)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru