JAKARTA — Pasar saham Indonesia mengawali perdagangan Senin (7/9/2026) dengan pergerakan positif meski investor menghadapi sentimen eksternal dan domestik, termasuk dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengganggu aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 0,24 persen ke level 6.651,87. Pada awal perdagangan, sebanyak 231 saham tercatat menguat, 108 saham melemah, sementara 624 saham bergerak stagnan. Volume transaksi mencapai sekitar 401 miliar saham dengan nilai transaksi Rp277 miliar dan frekuensi sekitar 47 ribu transaksi.
Pergerakan tersebut menunjukkan pasar belum merespons erupsi Anak Krakatau secara berlebihan. Investor tampaknya masih memilah dampak langsung erupsi terhadap aktivitas ekonomi dan kinerja emiten, terutama sektor yang berkaitan dengan transportasi udara, pariwisata, logistik dan konsumsi.
Erupsi Anak Krakatau menjadi perhatian karena sebaran abu vulkanik telah mengganggu operasional sejumlah bandara. Pemerintah memperpanjang penutupan delapan bandara terdampak hingga 7 September, termasuk Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, Husein Sastranegara, Budiarto Curug dan Pondok Cabe.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga terus memantau sebaran abu vulkanik. Analisis satelit menunjukkan terdapat dua klaster sebaran abu yang melingkupi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Kondisi tersebut membuat sektor penerbangan menjadi salah satu bidang yang paling cepat merasakan dampaknya.
Dampak terhadap penerbangan cukup besar. Reuters melaporkan sekitar 170 ribu penumpang terdampak pembatalan penerbangan akibat penutupan sejumlah bandara. Otoritas juga masih mengantisipasi kemungkinan erupsi lanjutan karena aktivitas vulkanik Anak Krakatau belum sepenuhnya mereda.
Meski demikian, sentimen tersebut belum membuat IHSG masuk zona merah pada awal perdagangan. Bahkan sektor kesehatan menjadi salah satu penopang penguatan indeks pada pembukaan pasar. Kondisi ini menarik perhatian karena saham-saham defensif cenderung lebih mampu bertahan ketika pasar menghadapi ketidakpastian jangka pendek.
Salah satu saham yang turut menjadi perhatian adalah PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Saham emiten farmasi tersebut berada di kisaran Rp775 pada awal perdagangan dan menjadi salah satu saham yang dipantau investor di tengah menguatnya sektor kesehatan.
Selain sektor kesehatan, saham berbasis energi dan komoditas juga masuk radar pasar. PT Bumi Resources Tbk (BUMI), misalnya, bergerak di kisaran Rp210 dan tercatat menguat sekitar 1,94 persen dalam data perdagangan pagi. Sementara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) berada di sekitar Rp940 atau menguat sekitar 3,3 persen.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa perhatian investor tidak hanya tertuju pada dampak erupsi, tetapi juga pada perkembangan inflasi dan harga komoditas. Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan dengan kenaikan 0,21 persen secara bulanan.
Di sisi lain, saham PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) menjadi salah satu saham yang menarik diamati oleh investor ritel karena volatilitasnya cukup tinggi. Pergerakan COCO dalam beberapa sesi terakhir menunjukkan perubahan harga yang cepat sehingga investor perlu mencermati volume transaksi dan kekuatan permintaan sebelum mengambil keputusan.
Bagi investor, kondisi perdagangan awal pekan ini menunjukkan bahwa pasar masih berada dalam fase selektif. Erupsi Anak Krakatau memang memberikan tekanan terhadap aktivitas transportasi udara dan berpotensi memengaruhi sejumlah sektor ekonomi, tetapi dampaknya terhadap seluruh pasar saham tidak serta-merta sama.
Analis dan pelaku pasar juga perlu melihat durasi gangguan. Jika aktivitas penerbangan kembali normal dalam waktu singkat, dampaknya terhadap perekonomian dan pasar saham berpotensi lebih terbatas. Sebaliknya, gangguan yang berlangsung lebih lama dapat meningkatkan tekanan terhadap sektor penerbangan, pariwisata, perjalanan dan sebagian rantai distribusi.
Dengan kondisi tersebut, perdagangan awal pekan diperkirakan masih akan berlangsung dinamis. Investor akan mencermati perkembangan aktivitas Anak Krakatau, kondisi pasar regional, pergerakan rupiah, harga komoditas serta arah transaksi saham-saham berkapitalisasi besar.
Untuk sementara, IHSG yang mampu dibuka di zona hijau memberikan sinyal bahwa pasar belum menunjukkan kepanikan. Namun, volatilitas tetap perlu diwaspadai karena sentimen erupsi masih berkembang dan kondisi operasional penerbangan dapat berubah mengikuti penyebaran abu vulkanik.
Bagi investor ritel, momentum awal pekan ini menjadi kesempatan untuk kembali menerapkan disiplin investasi: tidak terburu-buru mengejar saham yang naik tajam, memperhatikan volume perdagangan, serta menyesuaikan keputusan dengan profil risiko masing-masing.
Pergerakan IHSG sepanjang sesi pertama akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah penguatan pagi ini mampu bertahan atau justru berubah menjadi aksi ambil untung. (red)



