LEBAK – Kabupaten Lebak selama ini dikenal luas berkat keindahan Pantai Sawarna dan kearifan budaya masyarakat Baduy yang menjadi ikon pariwisata Banten. Namun kini, daerah yang memiliki bentang alam pegunungan, hamparan sawah, perkebunan, hingga kawasan hutan tropis tersebut mulai mengembangkan wajah baru sektor pariwisatanya melalui agrowisata. Konsep wisata berbasis pertanian ini tidak hanya menawarkan pengalaman rekreasi dan edukasi, tetapi juga diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi masyarakat desa.
Potensi tersebut didukung oleh karakter geografis Kabupaten Lebak yang sebagian besar masih didominasi kawasan pertanian dan perkebunan. Komoditas seperti padi, durian, kopi, aren, hingga aneka hortikultura menjadi modal besar untuk menghadirkan destinasi wisata yang menggabungkan keindahan alam dengan aktivitas pertanian. Wisatawan tidak hanya menikmati panorama pedesaan, tetapi juga dapat belajar menanam, memanen hasil kebun, hingga mengenal proses pengolahan produk lokal secara langsung.
Salah satu kawasan yang kini menjadi fokus pengembangan adalah Agrowisata Cikapek di Kecamatan Leuwidamar. Kawasan seluas sekitar 52 hektare itu dirancang sebagai destinasi wisata terpadu yang memadukan pertanian, peternakan, edukasi lingkungan, bumi perkemahan, hingga ruang bagi pelaku UMKM. Pemerintah Kabupaten Lebak bersama Kementerian Pariwisata tengah mendorong pengembangan kawasan tersebut agar menjadi salah satu destinasi unggulan baru di Banten sekaligus memperluas pilihan wisata di luar Baduy dan Sawarna. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Pemerintah Kabupaten Lebak, pengembangan Cikapek diarahkan untuk memperkuat pariwisata berbasis masyarakat dan meningkatkan nilai tambah sektor pertanian.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Yosep Muhamad Holis, menyampaikan bahwa arah pembangunan pariwisata daerah kini tidak hanya berfokus pada destinasi yang telah populer, tetapi juga mendorong tumbuhnya destinasi baru yang mampu memberdayakan masyarakat desa. Agrowisata dinilai memiliki keunggulan karena mampu menghubungkan sektor pertanian, ekonomi kreatif, kuliner, dan budaya dalam satu ekosistem yang saling mendukung.
“Agrowisata memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Petani tidak hanya menjual hasil panen, tetapi juga menawarkan pengalaman wisata, edukasi, hingga produk olahan yang memiliki nilai tambah,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, agrowisata membuka peluang yang lebih luas dibandingkan pertanian konvensional. Kehadiran wisatawan mendorong tumbuhnya usaha kuliner, homestay, jasa pemandu wisata, penyewaan perlengkapan, penjualan produk UMKM, hingga kerajinan tangan khas desa. Dampak berantai tersebut menjadikan perputaran ekonomi tidak hanya dinikmati petani, tetapi juga masyarakat sekitar yang terlibat dalam aktivitas wisata.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lebak, sektor pariwisata menunjukkan tren yang semakin positif. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Maret 2026 mencapai 39,77 persen, meningkat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa aktivitas wisata di Kabupaten Lebak terus bertumbuh dan membuka peluang bagi pengembangan destinasi-destinasi baru berbasis alam maupun pertanian.
Bupati Lebak Hasbi Jayabaya menegaskan bahwa pengembangan agrowisata merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah untuk membangun ekonomi desa secara berkelanjutan. Menurutnya, potensi alam yang dimiliki Kabupaten Lebak harus mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat tanpa mengabaikan aspek pelestarian lingkungan dan budaya lokal.
“Kabupaten Lebak memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Kami ingin potensi pertanian dan perkebunan tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga menjadi destinasi wisata yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Agrowisata adalah salah satu jalan untuk menghadirkan lapangan kerja baru, memperkuat UMKM, dan menjadikan desa semakin mandiri,” ujar Hasbi.
Pengembangan agrowisata juga sejalan dengan tren wisata saat ini yang lebih mengedepankan experiential tourism, yakni wisata yang menawarkan pengalaman langsung kepada pengunjung. Aktivitas seperti memetik buah, menanam padi, mengenal budidaya kopi, menikmati kuliner hasil kebun, hingga berinteraksi dengan masyarakat desa menjadi daya tarik yang semakin diminati wisatawan domestik maupun mancanegara.
Dengan kekayaan sumber daya alam, budaya, dan masyarakat yang masih menjaga tradisi lokal, Kabupaten Lebak memiliki peluang besar untuk menjadikan agrowisata sebagai identitas baru sektor pariwisata. Jika selama ini Sawarna identik dengan pantainya dan Baduy dengan budaya adatnya, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan Lebak juga dikenal sebagai salah satu pusat agrowisata unggulan di Provinsi Banten yang mampu menggerakkan ekonomi desa sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat. (red)



