BANTEN — Tahapan Pra SPMB 2026/2027 di Banten mulai memanas. Bukan hanya soal nilai, tetapi juga kecemasan orang tua yang meningkat setiap hari—mulai dari antrean verifikasi data, kekhawatiran server bermasalah, hingga ketatnya persaingan jalur zonasi.
Di sejumlah wilayah seperti Tangerang Raya, orang tua mengaku harus bolak-balik memastikan data anak mereka sudah valid di sistem. Kesalahan kecil, seperti alamat, Kartu Keluarga atau nilai rapor, bisa berdampak besar pada peluang masuk sekolah negeri.
“Anak saya dari tanggal 22 sampe sekarang masih diajukan aja bang. Setiap hari saya cek, takut ada yang salah. Sekarang bukan cuma nilai, tapi data juga harus benar-benar aman,” ujar Nardi, salah satu wali murid di Kota Tangerang Selatan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Jamaludin, menegaskan bahwa tahap Pra SPMB menjadi fondasi utama sebelum seleksi dibuka.
“Kalau data tidak valid, sistem tidak akan memproses. Karena itu kami minta peserta dan orang tua teliti sejak awal,” ujarnya.
Di sisi lain, isu stabilitas server juga menjadi perhatian. Pemerintah menggandeng PT Telkom Indonesia untuk memastikan sistem tetap berjalan lancar saat diakses ribuan pendaftar secara bersamaan.
Meski demikian, kekhawatiran tetap muncul. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, di mana akses sistem sempat melambat saat puncak pendaftaran, masih membekas di ingatan banyak orang tua.
Selain faktor teknis, jalur zonasi atau domisili kembali menjadi sumber ketegangan. Di wilayah padat seperti Kota Tangerang, selisih jarak rumah ke sekolah yang hanya beberapa meter bisa menentukan diterima atau tidaknya seorang siswa.
“Rumah kami tidak jauh, tapi kalau kalah jarak sedikit saja bisa gagal. Itu yang bikin deg-degan,” kata Artha orang tua lainnya yang tinggal di dari Kota Tangerang.
Ibrohim, penggiat sosial dan pendidikan menilai, sistem zonasi memang bertujuan pemerataan, namun di wilayah dengan kepadatan tinggi, kompetisi justru semakin ketat dan sering memicu kecemasan.
Dengan pendaftaran utama yang akan dibuka pada Juni, tekanan terhadap siswa dan orang tua diperkirakan akan terus meningkat. Pra SPMB yang seharusnya menjadi tahap awal, kini berubah menjadi arena pertama yang menentukan.
Di tengah sistem yang semakin digital, satu hal tetap sama: perjuangan orang tua demi memastikan anaknya mendapatkan akses pendidikan terbaik. (red)

