BerandaTANGERANG RAYAKOTA TANGERANG SELATANAngka E. coli Sampel Air Serpong Lagoon Capai 956, Warga Butuh Solusi...

Angka E. coli Sampel Air Serpong Lagoon Capai 956, Warga Butuh Solusi Cepat

TANGSEL — Persoalan air bersih di Perumahan Serpong Lagoon, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan (Tangsel), menjadi perhatian serius setelah pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada tiga sampel air. Pemerintah Kota Tangsel pun mendesak pengelola instalasi Water Treatment Plant (WTP) segera menyediakan pasokan air alternatif bagi warga di tengah kasus muntaber yang diduga berkaitan dengan kontaminasi tersebut.

Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan menyampaikan desakan itu saat bertemu warga dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), Kamis (15/10/2026). Ia menegaskan, tanggung jawab pengelola tidak cukup sebatas memperbaiki instalasi, tetapi juga memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi.

“Dengan adanya permasalahan ini, pihak pengelola harus ikut bertanggung jawab memberikan distribusi air bersih, entah dari mana. Yang penting standar mutu bakunya terpenuhi,” ujar Pilar.

Hasil pemeriksaan yang dilakukan Dinas Kesehatan Tangsel bersama Puskesmas Keranggan menunjukkan angka E. coli sebesar 14 pada sampel reservoir WTP, 660 pada sampel air rumah warga yang menggunakan filter, dan 956 pada sampel rumah tanpa filter. Satuan pengukuran tidak dicantumkan dalam data yang disampaikan. Temuan ini memperlihatkan bahwa ketiga sampel mengandung E. coli, tetapi belum cukup untuk memastikan titik awal maupun jalur terjadinya kontaminasi.

Pilar meminta penggunaan air dari WTP tersebut dihentikan sementara sampai hasil pemeriksaan memastikan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan. Pasokan pengganti juga harus diawasi Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup agar air yang diterima warga benar-benar aman digunakan.

Di sisi teknis, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Tangsel diminta mengevaluasi keseluruhan sistem, mulai dari proses pengolahan, sumber air baku, hingga jaringan pipa menuju rumah warga. Pengelola juga perlu melakukan pembersihan dan desinfeksi instalasi, mengoptimalkan klorinasi sesuai ketentuan, serta memeriksa kemungkinan kebocoran yang dapat membuka jalan masuk kontaminan.

“WTP ini bisa dibenahi secara total. Bukan pembenahan sedikit-sedikit, tetapi secara menyeluruh, mulai dari pengolahan air sampai pendistribusian dan jalur pemipaannya. Itu harus diperbaiki sesuai standar,” tegas Pilar.

Ia turut meminta pengelola menyelesaikan persyaratan administrasi dan menjelaskan secara terbuka kendala operasional yang dihadapi. Menurut Pilar, pembahasan kerja sama dengan Perumda Tirta Pakuan/PAM sebelumnya belum menghasilkan kesepakatan. Karena itu, pemerintah daerah mendorong solusi yang berkelanjutan agar warga tidak terus menghadapi ketidakpastian pasokan air bersih.

Kontaminasi E. coli pada air perlu ditangani secara serius karena bakteri ini dapat menjadi indikator pencemaran fekal dan berpotensi menyebabkan gangguan pencernaan. Air yang tercemar tidak boleh digunakan untuk minum maupun menyiapkan makanan sebelum dinyatakan aman. Warga sebaiknya memakai air minum yang terjamin keamanannya dan mengikuti arahan Dinas Kesehatan, terutama untuk kebutuhan memasak, menyikat gigi, serta membuat susu bayi.

Pemkot Tangsel kini menghadapi dua pekerjaan penting sekaligus: memastikan warga memperoleh air aman dalam waktu dekat dan menelusuri penyebab kontaminasi hingga tuntas. Hasil pemeriksaan lanjutan terhadap sumber air, instalasi pengolahan, serta jaringan distribusi akan menjadi bagian penting untuk menentukan langkah korektif. Sampai penyebabnya dipastikan dan kualitas air dinyatakan memenuhi standar, keselamatan warga harus menjadi prioritas utama. (red)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru