BerandaRuangJatuh Tempo Paling Menakutkan: Datang Tanpa Notifikasi, Tak Bisa Minta Perpanjangan

Jatuh Tempo Paling Menakutkan: Datang Tanpa Notifikasi, Tak Bisa Minta Perpanjangan

JATUH TEMPO

“Mohon maaf mengingatkan, tagihan internet Anda akan jatuh tempo dalam 3 hari lagi.” Kata “jatuh tempo” selalu untuk sebuah tagihan. Cicilan motor, cicilan rumah, tenggat waktu pajak, atau batas waktu pembayaran layanan internet. Mungkin selalu disertai juga oleh rasa cemas setiap notifikasi seperti itu datang bila yang mendapatkannya belum siap. Notifikasi jatuh tempo yang berawal dari tagihan pinjaman yang memiliki batas waktu.

Pinjaman terbesar yang kita dapati saat ini adalah kredit kehidupan yang memiliki tanggal kadaluwarswa yang mutlak. Jatuh tempo pada saat kematian. Dan kematian adalah jatuh tempo tanpa notifikasi. Pinjaman jasmani dan ruhani yang harus dikembalikan tanpa perpanjangan waktu atau denda keterlambatan. Stop. Kredit anda sudah berakhir. Tidak ada status lunas atau status belum bayar. Yang ada adalah status mayat, atau jenazah dengan gelar alm atau almh.

Jatuh tempo akhir kehidupan adalah satu-satunya keniscayaan yang paling adil di alam semesta ini. Ia tidak memandang seberapa saldo yang tersisa di rekening, seberapa tinggi jabatan yang diraih, atau seberapa megah istana tempat tinggal yang dibangun. Ia datang kepada semua yang bernyawa. Berbeda dengan jatuh tempo tagihan yang selalu mengirimkan notifikasi peringatan beberapa waktu sebelumnya, jatuh tempo yang hanya satu kali ini selalu datang secara senyap, tiba-tiba, dan tanpa pesan pembuka.

Namun sebenarnya, notifikasi jatuh tempo yang satu ini sudah datang berulang-ulang, bukan setiap bulan seperti tagihan PLN dan PDAM, atau setiap tahun seperti pajak kendaraan atau pajak bumi bangunan. Notifikasinya hadir setiap saat. Matahari yang terbit dari timur, dan tenggelam di barat. Pengumuman dari corong masjid yang menginformasikan si fulan telah berangkat jauh, mari kita bertakziah ke rumah duka. Batu nisan atau buku yasin bertulisankan fulan bin fulan. Atau notifikasi yang datang dari yang terdekat pada diri kita sendiri. Mata yang mulai minus atau plus nol koma sekian. Rambut yang sudah tidak bisa dikatakan hitam. Gigi yang sudah berkurang dari jumlah normal 32 gigi orang dewasa. Sungguh amat dekat peringatannya.

Ketika saat jatuh tempo itu tiba, tidak ada negosiasi untuk memperpanjang kontrak pinjaman. Yang tersisa adalah hanya rekam jejak. Bagaimana pinjaman waktu itu dihabiskan? Di tempat maksiat atau di tempat kebaikan. Bagaimana pinjaman harta didapatkan? Dari pekerjaan halal atau dari Tindakan curang dan pekerjaan maling berdasi. Bagaimana pula pinjaman harta dibelanjakan? Untuk infak dan sedekah atau untuk membayar para pengadu domba.

Akhirnya, kita menyadari bahwa setiap saat adalah jatuh tempo. Hidup adalah proses cicilan yang tidak pernah dapat status lunas kecuali kata ridho dari Sang Pemberi. Saatnya tiba, penuh harap kita tidak seperti seorang debitur yang bangkrut, melainkan seperti seorang musafir yang telah bepergian jauh tiba kembali ke rumah dengan tenang, husnul khatimah.

Sekali lagi, jatuh tempo yang satu ini tidak bisa dimundurkan dan juga tidak bisa dimajukan dengan alasan apapun. “Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan”, potongan kalimat dari kitab suci Al-Quran, surat Al-Araf ayat 34.

Penulis: Muhammad taufik

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru