TANGSEL – Menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII Banten 2026 bukan sekadar menyiapkan arena pertandingan. Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) bersama Panitia Besar Porprov kini mematangkan kebutuhan layanan kesehatan, pengamanan, akomodasi, hingga pengaturan lalu lintas demi memastikan kompetisi pada November mendatang berjalan lancar.
Salah satu perhatian utama adalah kesiapan layanan medis di seluruh lokasi pertandingan, termasuk venue yang berada di luar wilayah administratif Tangsel. Koordinasi dengan rumah sakit umum terdekat menjadi bagian dari langkah antisipasi apabila atlet, ofisial, maupun pihak lain membutuhkan pertolongan selama kompetisi berlangsung.
Wakil Wali Kota Tangsel sekaligus Ketua Panitia Besar Porprov VII Banten, Pilar Saga Ichsan, mengatakan setiap bidang telah melakukan pemetaan kebutuhan sesuai karakteristik lokasi pertandingan. Persiapan mencakup tenaga medis, keamanan, konsumsi, serta petugas yang akan ditempatkan di masing-masing arena.
“Sudah ada pemetaan yang dilakukan masing-masing bidang, termasuk siapa saja yang bertugas di setiap venue. Kebutuhan medis, keamanan, dan konsumsi disesuaikan dengan lokasi pertandingan, baik di Tangsel maupun di luar daerah,” ujar Pilar, Jumat (9/10/2026).
Kebutuhan lintas wilayah muncul karena tidak semua cabang olahraga dapat ditampung oleh fasilitas yang tersedia di Tangsel. Sejumlah lokasi di Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Lebak masuk dalam pembahasan sebagai alternatif venue. Beberapa cabang yang disebut dalam pemetaan antara lain selancar, bowling, atletik, dan gimnastik, sementara penetapan akhir lokasi pertandingan akan dibahas melalui rapat pleno.
Pilar menegaskan, pemilihan arena tidak bisa hanya berdasarkan ketersediaan lapangan atau gedung. Panitia bersama KONI Provinsi Banten melakukan pemeriksaan teknis untuk memastikan dimensi arena, pencahayaan, ruang ganti, sirkulasi penonton, serta fasilitas pendukung sesuai dengan standar setiap cabang olahraga.
Sejak awal September, visitasi venue telah dilakukan di sejumlah wilayah Tangsel, termasuk Pamulang, Serpong, Setu, Ciputat, dan Pondok Aren. Pemeriksaan tersebut mencakup kebutuhan puluhan cabang olahraga, dengan sekitar 60 cabang masuk dalam cakupan peninjauan. Fasilitas milik pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan, instansi, hingga pihak swasta turut dipertimbangkan sepanjang memenuhi persyaratan pertandingan.
Di luar arena, kesiapan transportasi dan akomodasi juga menjadi pekerjaan penting. Panitia mulai memetakan hotel untuk atlet, ofisial, serta pengunjung dari luar daerah. Pada saat bersamaan, skema pergerakan kontingen dari penginapan menuju venue perlu disusun agar peningkatan mobilitas selama pertandingan tidak menimbulkan gangguan berarti bagi masyarakat.
“Jangan sampai nanti mengganggu aktivitas orang-orang yang berangkat bekerja atau sekolah,” kata Pilar.
Karena itu, analisis dampak lalu lintas dan kemungkinan rekayasa akses akan menjadi bagian dari persiapan, terutama di lokasi yang diperkirakan menarik banyak penonton. Pengamanan juga dirancang berdasarkan tingkat risiko masing-masing cabang olahraga melalui koordinasi dengan TNI dan Polri. Selain penempatan personel, panitia menyiapkan mitigasi kerumunan, skenario keadaan darurat, serta sosialisasi aturan bagi penonton, termasuk larangan membawa senjata tajam, narkotika, dan minuman keras.
Penyelenggara turut memperhitungkan perbedaan kebutuhan medis antarcabang. Olahraga dengan kontak fisik tinggi dapat membutuhkan penanganan yang berbeda, tetapi setiap venue tetap harus memiliki dukungan keselamatan dasar. Keterlibatan rumah sakit pemerintah maupun swasta diharapkan memperkuat kesiapan penanganan apabila terjadi kondisi darurat.
Pilar menyebut keberhasilan Porprov tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah daerah dan KONI. Pelaku perhotelan, fasilitas kesehatan, dunia usaha, institusi pendidikan, serta berbagai pemangku kepentingan perlu bergerak bersama. Menjelang pembukaan pada November 2026, koordinasi lintas bidang terus dilakukan untuk menuntaskan kebutuhan teknis dan mengantisipasi persoalan yang berpotensi muncul saat pertandingan berlangsung.
Dengan persiapan tersebut, tantangan penyelenggaraan Porprov VII Banten bukan hanya memastikan atlet bertanding di arena yang layak, tetapi juga menjamin layanan kesehatan tersedia, akses menuju venue terkendali, dan aktivitas warga tetap berjalan. Kesiapan operasional di berbagai sektor inilah yang akan menentukan kelancaran pesta olahraga tingkat provinsi tersebut. (*)



