TANGERANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026 dengan menyiagakan 14 pos layanan kebencanaan di berbagai wilayah. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi krisis air bersih yang diperkirakan melanda hingga September 2026, seiring prediksi musim kemarau panjang dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Berdasarkan hasil pemetaan BPBD, sedikitnya 20 kecamatan di Kabupaten Tangerang berpotensi mengalami dampak kekeringan. Kondisi tersebut diperkirakan memengaruhi kebutuhan air bersih masyarakat hingga sektor pertanian apabila curah hujan terus berada di bawah normal selama beberapa bulan ke depan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik, mengatakan pihaknya telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal saat krisis air bersih terjadi.
“Sekitar 20 kecamatan mengalami potensi dampak kekeringan. Kondisi ini dipengaruhi musim kemarau panjang yang diprediksi BMKG berlangsung mulai awal Juli hingga September 2026,” ujar Achmad Taufik, Kamis (23/7/2026).
Sebagai upaya mitigasi, BPBD mengoptimalkan fungsi 14 pos pemadam kebakaran dan kebencanaan yang tersebar di sejumlah kecamatan. Setiap pos telah dilengkapi personel, armada mobil tangki air, serta terintegrasi dengan sumber air bersih sehingga dapat mempercepat distribusi bantuan ke wilayah terdampak.
Menurut Taufik, bantuan air bersih tersebut diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, seperti mandi, mencuci, dan sanitasi. Sementara untuk kebutuhan air minum, BPBD juga menyalurkan air bersih maupun air minum kemasan sesuai kebutuhan di lapangan.
“Kami memastikan armada dan personel siap bergerak ketika ada permintaan dari masyarakat. Distribusi air bersih dilakukan agar aktivitas warga tetap berjalan meski terdampak musim kemarau,” jelasnya.
Selain menyiagakan armada, BPBD memperkuat koordinasi lintas perangkat daerah, di antaranya bersama Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman (Perkim), Perumdam Tirta Kerta Raharja (PDAM), serta instansi terkait yang memiliki fasilitas mobil tangki dan produksi air bersih. Koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Pertanian untuk mengantisipasi ancaman kekeringan lahan yang berpotensi menyebabkan gagal panen dan menurunkan produktivitas pertanian.
Sementara itu, Kepala Markas PMI Kabupaten Tangerang, Hadi Fauzi, mengungkapkan dampak kemarau mulai dirasakan masyarakat. Hingga saat ini, PMI telah menerima permohonan bantuan air bersih dari delapan desa di enam kecamatan, yakni Panongan, Curug, Kelapa Dua, Sukadiri, Kronjo, dan Mekar Baru.
“Permohonan berasal dari Desa Panongan, Curug Kulon, Bojong Nangka, Gintung, Kosambi, Muncung, Jenggot, dan Dadap Dalam. Saat ini baru dua kecamatan yang telah kami distribusikan masing-masing sebanyak 10.000 liter air bersih, sedangkan wilayah lainnya sedang dijadwalkan untuk penyaluran berikutnya,” kata Hadi Fauzi.
PMI memastikan distribusi air bersih akan terus dilakukan selama musim kemarau masih berlangsung. Bahkan, penugasan bantuan dari PMI Pusat dijadwalkan berjalan hingga Mei 2027, sehingga diharapkan kebutuhan masyarakat terdampak kekeringan dapat terpenuhi secara berkelanjutan. Pemkab Tangerang pun mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak serta segera melapor kepada BPBD atau pemerintah setempat apabila mengalami kesulitan memperoleh pasokan air bersih. (red)



