TANGSEL – Upaya mengatasi persoalan sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memasuki babak baru. Pemerintah Kota Tangsel mendapat dukungan penuh dari DPRD setempat untuk rencana pembebasan lahan seluas 2,7 hektare guna pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan TPA Cipeucang, Serpong.
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, menyebut dukungan tersebut menjadi momentum penting dalam percepatan proyek strategis pengelolaan sampah di daerahnya.
“Dukungan DPRD ini sangat berarti, mulai dari pimpinan hingga komisi terkait, semuanya mendukung penuh pelaksanaan PSEL di Tangsel,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang di terima Minggu (03/05/2026).
Menurut Pilar, dukungan itu tidak hanya berkaitan dengan penganggaran, tetapi juga mencakup kebutuhan teknis, seperti penguatan armada pengangkut sampah dari permukiman ke lokasi pengolahan. Hal ini penting mengingat volume sampah harian di Tangsel terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk.
Ia menjelaskan, proyek PSEL saat ini tengah menyesuaikan dengan perubahan regulasi dari Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 ke Perpres Nomor 109 Tahun 2025. Dalam skema terbaru, pemerintah daerah bertanggung jawab menyediakan lahan, berbeda dengan aturan sebelumnya yang membebankan hal tersebut kepada investor.
“Sekarang pemerintah kota harus menyiapkan lahan. Ini tantangan, tapi juga peluang untuk mempercepat realisasi proyek,” jelasnya.
Di sisi lain, perubahan skema tersebut membawa keuntungan bagi daerah. Pemkot tidak lagi dibebani biaya tipping fee per ton sampah, karena pendanaan akan berbasis kerja sama dengan PLN melalui penjualan listrik hasil olahan sampah.
Selain lahan utama, Pemkot Tangsel juga telah menyiapkan sekitar 2,5 hektare tambahan untuk pengelolaan residu berupa bottom ash dan fly ash. Dengan demikian, total kebutuhan lahan untuk fasilitas PSEL diproyeksikan mencapai sekitar 5 hektare.
Tak hanya itu, pemerintah juga tengah membangun fasilitas Material Recovery Facility (MRF) sebagai tahap awal pemilahan sampah sebelum masuk ke proses pengolahan energi.
Pilar menargetkan proyek ini dapat mulai berjalan pada pertengahan 2026, seiring koordinasi intensif dengan pihak kementerian dan mitra strategis.
“Targetnya pertengahan tahun ini sudah kick off. Kami optimistis PSEL bisa segera terwujud,” tegasnya.
Jika terealisasi, fasilitas PSEL Tangsel diproyeksikan mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari. Lebih dari sekadar infrastruktur, proyek ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang atas persoalan sampah yang selama ini menjadi keluhan warga. (red)

